Bahas Isu Hot di Banyolannya, Komika Adriano Qalbi Ngaku Tidak Mudah
JAKARTA, iNews.id - Bagi penggemar standup comedy mungkin tak asing lagi dengan sosok Adriano Qalbi. Komika (pelawak tunggal), pemeran, dan penulis ini kerap mengembangkan karyanya lewat podcast. Dia pun dijuluki Bapak Podcast Indonesia sebagai salah satu pelopor industri siniar di Indonesia.
Lulusan Universitas Bond Australia ini juga sempat menjadi copy writer, crative derictor dan penyiar radio. Terbaru, Adriano Qalbi, menemani komika Tretan Muslim menghadirkan obrolan (banyolan) dari perspektif yang berseberangan dengan suara mayoritas di platform konten audio lokal Noice. Mengawali season terbaru, Adriano Qalbi dan Tretan Muslim hadir dengan episode perdana berjudul Kami Mendukung Birokrasi Berbelit-Belit, keduanya membahas beberapa contoh kasus dari sistem pemerintahan di Indonesia yang mereka rasa sangat berbelit-belit dan rumit.
“Menyampaikan opini yang tidak populer di masyarakat tentu bukan hal yang mudah dilakukan apalagi jika bermaksud memberikan kritik membangun untuk pihak tertentu. Lewat podcast Musuh Masyarakat, kami menghadirkan kritik dan opini tersebut secara terbuka dengan dibalut komedi yang kami harapkan bisa menghibur para pendengar," ujar Adriano Qalbi
"Secara tidak langsung, lewat podcast, kami juga ingin membuka ruang diskusi terkait berbagai hal tidak mainstream yang kami bahas dan kami berharap pesannya bisa dirasakan secara emosional oleh mereka yang mendengarkan podcast ini.” katanya
Berbekal latar belakang dan pengalaman yang mumpuni sebagai seorang standup comedy, Adriano Qalbi dan Tretan muslim telah dikenal dengan opini dan materi komedi yang thought-provoking. Tidak hanya mengajak pendengarnya untuk tertawa tapi juga merangsang pemikiran mereka.
Ada yang menarik, dalam episode perdana podcast Musuh Masyarakat, Tretan Muslim dan Adriano Qalbi juga mengundang guest bernama Gamayel, yang berprofesi sebagai polisi dan juga seorang standup comedian. Mereka membahas beberapa case menarik terkait sistem birokrasi Indonesia yang dirasa berbelit-belit dan rumit.
Seperti warga Bulukumba yang meninggal saat mengurus BPJS, menggambarkan bahwa masih ada beberapa daerah yang memiliki birokrasi buruk pada pelayanan fasilitas kesehatan. Topik lainnya yang dibahas adalah soal rumitnya perjalanan mengurus SIM di beberapa daerah karena harus melalui berbagai proses administrasi, tes teori hingga tes praktik yang medannya sengaja dibuat lebih sulit daripada jalanan umum.
Editor: Elvira Anna