Batik Naik Kelas! Sentuhan High Fashion Bikin Wastra Nusantara Tampil Modern dan Elegan
JAKARTA, iNews.id - Batik memiliki pesona yang tak lekang oleh waktu. Kekayaan motif, filosofi, serta keindahan detailnya menjadikan wastra Nusantara ini memiliki tempat istimewa dalam dunia fashion.
Namun, seiring perkembangan tren, batik kini tak hanya hadir sebagai busana tradisional atau pakaian untuk menghadiri acara resmi. Sentuhan desain modern membuatnya menjelma menjadi koleksi high fashion yang elegan, dinamis, sekaligus relevan dengan gaya hidup masa kini.
Salah satu pendekatan yang menarik terlihat dari eksplorasi desain blazer batik. Siluet yang tegas dan potongan yang lebih kontemporer memberikan karakter baru pada kain bermotif tradisional. Batik pun bisa dikenakan dengan cara yang lebih santai, misalnya dipadukan dengan celana bahan maupun jeans untuk menciptakan penampilan smart casual.

Tren tersebut turut menjadi perhatian Atikah Huza, pemilik sekaligus desainer TIEKA HUZA. Dia melihat semakin banyak perempuan muda yang mulai tertarik mengenakan batik, terutama dalam bentuk busana dengan potongan modern yang tidak terkesan kaku.
"Kalau anak muda sih lebih suka yang saya pakai ya, kayak blazer-blazer gini," ujar Atikah saat ditemui dalam TIEKA HUZA Trunk Show 2026 di Batik Huza, Kemang, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Menurut Atikah, konsumen sebelumnya didominasi perempuan berusia 30 tahun ke atas. Namun, perkembangan selera pasar mendorong jenama tersebut memperluas jangkauan konsumennya melalui koleksi ready to wear yang lebih kasual dan modern.
"Kalau konsumen saya sebelumnya tuh di usia rata-rata 30 ke atas, tapi sekarang kami sudah mulai menurunkan ke 30 ke bawah, dengan memproduksi koleksi ready to wear yang lebih style-nya ke anak muda," jelasnya.
Menariknya, modernisasi yang dilakukan tidak lantas meninggalkan akar tradisi. Jenama itu tetap menjadikan motif klasik sebagai sumber inspirasi, kemudian mengolahnya melalui eksplorasi warna, komposisi pola, hingga siluet busana.
"Kalau motif tertentu sebenarnya enggak juga, kita tetap pakai motif-motif klasik tapi kita kembangin lagi ke motif-motif yang lebih modern," katanya.
Karakter motif daun dan titik-titik yang lekat dengan keindahan batik tetap dipertahankan. Namun, elemen tersebut dikombinasikan dengan pola lain, termasuk motif monogram, untuk menciptakan tampilan yang lebih segar. Permainan warna juga menjadi bagian penting dalam menghadirkan karakter batik yang lebih modern tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa keindahan batik tidak harus dibatasi oleh pakem busana formal. Justru, melalui kreativitas dalam desain, motif warisan budaya dapat diterjemahkan menjadi karya fashion yang memiliki karakter kuat sekaligus mengikuti perkembangan zaman.
"Walaupun klasik, tradisional, tapi tetap bisa menampilkan batik-batik itu modern dan kekinian sehingga kita yang pakai tuh enggak kelihatan lebih tua," tutur Atikah.
Dalam trunk show kali ini, TIEKA HUZA memperkenalkan tiga kelompok koleksi, yakni ready to wear, sutra, dan bordir bermotif batik. Masing-masing kelompok menghadirkan delapan look dengan karakter dan pendekatan desain berbeda.
Koleksi ready to wear menampilkan pilihan blazer dan dress yang lebih fleksibel untuk berbagai kesempatan. Sementara itu, lini sutra menghadirkan kesan mewah melalui material yang lebih eksklusif dan diarahkan untuk tampilan formal. Adapun koleksi bordir mengeksplorasi bahan organza dan tile yang dipadukan dengan pola batik, menciptakan permainan tekstur dan detail yang memberikan dimensi tersendiri pada busana.
Dari sisi material, jenama ini menggunakan beragam kain, mulai dari katun dan sutra hingga organza dan tile. Perbedaan karakter bahan tersebut memberikan ruang eksplorasi pada siluet, struktur, dan detail busana.
Untuk koleksi yang ditawarkan, blazer batik dibanderol mulai Rp700 ribu, sedangkan busana berbahan sutra memiliki harga mulai Rp2 juta. Atikah menyebut blazer dan koleksi sutra menjadi beberapa pilihan yang diminati konsumen.
Tak hanya menghadirkan busana perempuan, brand ini juga menyediakan koleksi untuk laki-laki, seperti kemeja dan hem. Konsumen yang ingin tampil serasi bersama pasangan atau keluarga bahkan dapat memesan busana secara custom.
Meski demikian, Atikah menyarankan agar gaya couple batik tidak selalu diterjemahkan melalui pakaian yang benar-benar seragam. Keserasian justru dapat dibangun dengan memilih warna atau tone motif yang senada sehingga masing-masing orang tetap memiliki karakter penampilan sendiri.
Sebagai informasi, brand ini merupakan lini premium dari Batik Huza, jenama batik asal Pekalongan yang telah berdiri sejak 1985. Seluruh proses produksinya dikerjakan sendiri di Pekalongan, dengan pemasaran melalui jalur online maupun offline.
Melalui eksplorasi desain dan material, TIEKA HUZA berupaya menghadirkan perspektif baru dalam mengenakan batik. Sebab, mempertahankan warisan budaya tidak berarti harus terpaku pada bentuk dan gaya yang sama dari masa ke masa.
Batik tetap memiliki keindahan dalam motif klasiknya, tetapi juga mempunyai ruang untuk berevolusi. Lewat siluet blazer yang modern, permainan warna yang berani, hingga perpaduan material yang elegan, wastra Nusantara ini membuktikan bahwa tradisi dan tren fashion dapat berjalan beriringan.
Editor: Muhammad Sukardi