Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Vaksin Tifoid Pertama Buatan Indonesia Resmi Diluncurkan, BPOM Approved!
Advertisement . Scroll to see content

BPOM Pastikan Vaksin Tifoid Bio-TCV Aman Diberikan Mulai Bayi Usia 6 Bulan

Jumat, 17 Juli 2026 - 18:04:00 WIB
BPOM Pastikan Vaksin Tifoid Bio-TCV Aman Diberikan Mulai Bayi Usia 6 Bulan
Vaksin Tifoid aman untuk usia 6 bulan. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan vaksin tifoid konjugat (Typhoid Conjugate Vaccine/TCV) Bio-TCV aman digunakan untuk imunisasi aktif mulai bayi usia 6 bulan hingga orang dewasa. 

Kepastian tersebut diberikan setelah vaksin produksi dalam negeri itu melalui serangkaian penilaian terhadap aspek mutu, keamanan, dan khasiat sebelum memperoleh nomor izin edar (NIE).

Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat pertama yang diproduksi di Indonesia hasil kolaborasi PT Bio Farma (Persero) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Vaksin ini resmi diperkenalkan dalam gelaran Medical Expo (Med-Expo) FKUI 2026 di Jakarta.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, lembaganya memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan vaksin dalam negeri melalui proses registrasi yang dipercepat tanpa mengurangi standar penilaian. Bio-TCV diproses melalui jalur khusus obat pengembangan baru dengan target penyelesaian 100 hari kerja sebelum akhirnya memperoleh izin edar pada 2023.

"Ketergantungan impor bahan baku obat yang mencapai 94% sangat mengganggu benak saya. Kemandirian obat dan vaksin adalah pilar utama ketahanan nasional. Kami belajar dari pandemi COVID-19. Ketika pasokan global terhambat, rakyat yang menanggung risikonya," kata Taruna Ikrar dalam keterangan resminya, Jumat (17/7/2026). 

Dia melanjutkan, "Oleh karena itu, kehadiran produk lokal hari ini adalah langkah luar biasa untuk memutus ketergantungan tersebut."

Taruna menjelaskan, BPOM melakukan pengawasan secara menyeluruh sejak tahap pengembangan hingga vaksin digunakan masyarakat. Pengawasan tersebut meliputi pelaksanaan uji klinik di Indonesia, pemeriksaan pemenuhan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), pemantauan sistem rantai dingin (cold chain), hingga farmakovigilans untuk memantau keamanan vaksin setelah dipasarkan.

Vaksin Tifoid Bio-TCV Buatan Indonesia Dijamin Aman

Berdasarkan hasil uji klinik, Bio-TCV menunjukkan profil keamanan dan efektivitas yang baik. Hampir 100 persen subjek penelitian yang terdiri dari bayi, anak, dan orang dewasa mengalami peningkatan kadar antibodi hingga empat kali lipat dibandingkan sebelum vaksinasi. Respons imun tersebut juga bertahan dengan baik hingga satu tahun setelah imunisasi.

BPOM juga mencatat efek samping yang muncul selama uji klinik umumnya bersifat ringan hingga sedang. Keluhan yang paling sering dilaporkan antara lain nyeri pada lokasi suntikan, demam, dan nyeri otot, yang umumnya dapat membaik dengan sendirinya.

Vaksin Bio-TCV disetujui untuk diberikan kepada bayi mulai usia 6 bulan hingga orang dewasa dalam dosis tunggal 0,5 mL melalui injeksi intramuskular. Perlindungan optimal mulai terbentuk sekitar tiga hingga empat minggu setelah vaksinasi.

Kehadiran Bio-TCV diharapkan dapat memperluas perlindungan terhadap kelompok balita yang selama ini belum memperoleh perlindungan optimal dari vaksin tifoid jenis sebelumnya. Langkah preventif melalui vaksinasi juga dinilai penting untuk menekan tingginya angka kasus demam tifoid di Indonesia.

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025 tercatat sekitar 914.000 kasus suspek tifoid. Sementara hingga minggu ke-16 tahun 2026, jumlahnya telah mencapai 266.869 kasus sehingga menempatkan tifoid sebagai salah satu dari lima penyakit dengan jumlah kasus tertinggi yang dipantau pemerintah.

Selain mencegah infeksi bakteri Salmonella typhi, vaksinasi juga diharapkan membantu mengurangi penggunaan antibiotik yang berlebihan pada pasien tifoid. Dengan demikian, risiko munculnya resistansi antimikroba atau bakteri yang kebal terhadap antibiotik dapat ditekan.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut