Bukan Balas Dendam, Aurelie Moeremans Bikin Buku Broken Strings demi Berdamai dengan Masa Lalu
JAKARTA, iNews.id – Buku Broken Strings menjadi ruang refleksi bagi Aurelie Moeremans untuk menghadapi sekaligus menerima masa lalu yang pernah membekas dalam hidupnya. Lewat karya tersebut, Aurelie menegaskan bahwa proses menulis bukan untuk mengungkit luka, melainkan langkah personal untuk berdamai dengan pengalaman pahit yang pernah dia alami sejak usia remaja.
Aurelie mengungkapkan, kisah dalam buku itu telah lama tersimpan dalam ingatan dan perasaannya. Namun, keputusan menuangkannya ke dalam tulisan baru diambil setelah melalui pertimbangan panjang. Dia memilih menulis secara perlahan agar setiap bagian lahir dari kejujuran, bukan dorongan emosional sesaat.
“Ceritanya sudah aku simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku lakukan secara intens dalam beberapa bulan. Aku nulis pelan-pelan, satu per satu, karena aku ingin setiap bagian ditulis dengan jujur dan hati-hati, bukan sekadar cepat selesai,” kata Aurelie Moeremans saat dihubungi awak media, Rabu (14/1/2026).
Pada awalnya, Aurelie sama sekali tidak ingin kisah tersebut diketahui publik. Pengalaman mencoba bersuara di masa lalu justru meninggalkan trauma, sehingga membuatnya memilih diam selama bertahun-tahun.
“Aku menulis sebagai bentuk kejujuran ke diri sendiri. Dulu, waktu aku masih kecil dan mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan. Jadi ada trauma untuk bercerita,” ujarnya.
Seiring waktu, sudut pandang Aurelie berubah. Dia menyadari bahwa menerima apa yang pernah terjadi merupakan bagian penting dari proses pemulihan. Dari kesadaran itulah Broken Strings lahir, bukan sebagai ajang pembuktian, melainkan upaya memahami diri sendiri.