Bukan Sakit Hati! Ini Alasan Rossa Laporkan 78 Akun Medsos ke Bareskrim
JAKARTA, iNews.id - Penyanyi ternama Rossa menegaskan bahwa langkahnya melaporkan 78 akun media sosial ke Bareskrim Mabes Polri bukan dilandasi emosi atau sakit hati semata. Lantas, apa alasannya?
Di balik laporan tersebut, ada alasan serius terkait dugaan praktik terorganisir yang merugikan secara materiil. Ini yang membuat Rossa mantap melaporkan akun diduga buzzer itu ke polisi.
Didampingi kuasa hukumnya, Natalia Rusli dan Ikhsan Tualeka, Rossa mengungkap bahwa pihak manajemennya menemukan pola serangan yang tidak wajar. Konten-konten negatif tentang dirinya diduga sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik demi keuntungan finansial.
"Ini bukan sekadar soal perasaan. Ada modus yang kami lihat, yaitu clickbait yang mengarah ke penjualan produk tertentu," ujar Rossa di Bareskrim, Jumat (17/4/2026).
5 Fakta Rossa Kena Mental usai Dituduh Oplas Gagal, Nomor 4 Bikin Panas!
Pelantun lagu 'Tegar' itu menjelaskan, para pelaku memanfaatkan namanya untuk memancing klik melalui judul atau narasi yang menyesatkan. Setelah itu, pengguna diarahkan ke tautan afiliasi atau lapak dagangan pribadi mereka.
Menurutnya, praktik seperti ini tidak hanya merugikan secara reputasi, tetapi juga secara ekonomi, karena namanya dijadikan alat untuk meraup keuntungan secara tidak etis.
Kuasa Hukum Bantah Rossa Oplas! Ini Pernyataan Lengkapnya
Rossa juga menyoroti bahwa fenomena ini bukan hanya menimpa dirinya. Sejumlah artis lain seperti Bunga Citra Lestari dan Maia Estianty disebut mengalami hal serupa, di mana konten negatif terus diproduksi hingga membentuk opini publik yang keliru.
Sementara itu, Natalia Rusli menegaskan bahwa laporan ini dibuat bertujuan memberikan efek jera sekaligus edukasi kepada masyarakat. Ia menilai, penggunaan media sosial harus dilakukan secara bijak tanpa menjatuhkan pihak lain demi kepentingan pribadi.
Langkah hukum ini, kata Ikhsan Tualeka, juga menjadi bentuk perlawanan terhadap praktik perundungan yang mulai dianggap biasa di ruang digital.
"Ini bukan soal anti-kritik, tapi soal membedakan kritik dengan bullying. Jangan sampai praktik seperti ini dinormalisasi," tegasnya.
Dari total akun yang teridentifikasi, sebanyak 78 akun resmi dilaporkan, sementara puluhan akun lainnya telah menunjukkan itikad baik dengan menghapus konten serta menyampaikan permintaan maaf.
Editor: Muhammad Sukardi