Cerita dan Gambar Anak-Anak Ini Berubah Jadi Buku, Kisahnya Menginspirasi
JAKARTA, iNews.id – Imajinasi anak-anak bisa menjadi lebih dari sekadar cerita di atas kertas. Bagi 13 anak dari keluarga kurang mampu dan panti asuhan di Jakarta, cerita serta ilustrasi yang mereka buat kini telah diterbitkan menjadi buku. Hasil penjualannya pun digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan mereka.
Pengalaman ini menjadi bagian dari inisiatif Cita Kita, gerakan pendidikan nirlaba yang digagas dua siswa sekolah menengah atas, Jasmine Haditono dan Jady Sutrisno. Keduanya ingin memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik.
Alih-alih hanya mengumpulkan donasi, Jasmine dan Jady mengajak anak-anak menghasilkan karya mereka sendiri. Gagasan, imajinasi, dan gambar yang semula dituangkan dalam kegiatan kreatif kemudian dikumpulkan dan diterbitkan secara profesional menjadi sebuah buku.

Proyek pertama Cita Kita melibatkan 13 anak dari komunitas kurang mampu dan panti asuhan di Jakarta, termasuk Panti Asuhan Yatim & Dhuafa Mizan Amanah serta Asrama Asuh Dompet Yatim dan Dhuafa di Cilandak.
Dalam prosesnya, anak-anak mengikuti lokakarya interaktif untuk mempelajari dasar-dasar menulis kreatif dan ilustrasi. Mereka diperkenalkan dengan cara menyusun alur cerita, membangun narasi, menciptakan karakter, hingga menerjemahkan gagasan menjadi gambar.
Meski mendapatkan arahan dan pendampingan, cerita serta ilustrasi yang dimuat dalam buku tersebut merupakan karya orisinal anak-anak peserta program. Mereka mendapat kesempatan untuk menuangkan gagasan sendiri dan melihat hasil kreativitasnya hadir dalam bentuk buku yang dapat dibaca masyarakat luas.
Pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menulis dan menggambar. Proses menghasilkan karya hingga diterbitkan juga membuka kesempatan bagi anak-anak untuk mengenali potensi diri dan menghargai gagasan yang mereka miliki.
Buku pertama Cita Kita dijual dengan harga Rp60.000 per eksemplar. Dari proyek tersebut, sebanyak 530 buku berhasil terjual dengan laba yang dilaporkan mencapai sekitar Rp30 juta.
Seluruh laba tersebut disalurkan kepada panti asuhan yang berpartisipasi untuk mendukung kebutuhan pendidikan anak-anak, mulai dari beasiswa, perlengkapan sekolah, sumber belajar, hingga kebutuhan penting lainnya.
Model ini menempatkan kreativitas anak sebagai bagian utama dari upaya penggalangan dana. Mereka tidak hanya menerima manfaat dari hasil penjualan, tetapi juga terlibat langsung dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai bagi orang lain.
Melalui buku tersebut, kegiatan literasi sekaligus menjadi sarana untuk mempertemukan kreativitas anak-anak dengan dukungan masyarakat. Pembelian buku memberikan manfaat ganda, yakni menghadirkan cerita untuk dibaca sekaligus membantu mendukung kebutuhan pendidikan.
Meski demikian, dampak kegiatan ini tidak hanya dapat dilihat dari jumlah buku yang terjual atau dana yang terkumpul. Lokakarya yang diselenggarakan juga memberi anak-anak pengalaman dalam mengembangkan cerita, menyusun ilustrasi, dan memahami proses penerbitan sebuah buku.
Kesempatan untuk melihat karya sendiri diterbitkan menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Anak-anak dapat menyaksikan bagaimana gagasan yang mereka tuangkan melalui tulisan dan gambar mampu menjangkau pembaca di luar lingkungan mereka.
Bagi Jasmine dan Jady, Cita Kita berangkat dari kepedulian terhadap ketimpangan kesempatan pendidikan yang masih dihadapi sebagian anak di Indonesia. Keduanya ingin membangun inisiatif yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membuka ruang bagi anak-anak untuk berpartisipasi dan mengembangkan kemampuan.
Nama Cita Kita, yang berarti Our Dreams atau Mimpi Kita, mencerminkan gagasan bahwa setiap anak berhak memiliki cita-cita dan memperoleh kesempatan untuk mengejarnya, terlepas dari latar belakang sosial maupun ekonomi.
Setelah buku pertamanya terjual ratusan eksemplar, Cita Kita kini tengah mempersiapkan penerbitan volume kedua. Proyek lanjutan ini diharapkan dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak anak untuk mengembangkan kreativitas dan memperoleh apresiasi atas karya mereka.
Ke depan, penerbitan buku, lokakarya pendidikan, dan kolaborasi dengan komunitas diharapkan dapat memperluas jangkauan inisiatif tersebut.
Editor: Muhammad Sukardi