Datang ke Polres Jaksel Pakai Kursi Roda, Doktif Bantah Sindir Richard Lee
JAKARTA, iNews.id – Dokter Samira Farahnaz atau Dokter Detektif (Doktif) membantah kabar yang menyebut dirinya menyindir dokter Richard Lee dengan datang ke Polres Metro Jakarta Selatan menggunakan kursi roda.
Doktif menegaskan, kondisi tersebut murni karena kesehatannya yang sedang menurun saat memenuhi panggilan penyidik. Bahkan, tangannya yang masih terpasang infus sempat menjadi sorotan awak media ketika dia tiba di lokasi pemeriksaan.
Pemeriksaan tersebut dilakukan terkait laporan Richard Lee atas dugaan pencemaran nama baik yang tengah ditangani aparat kepolisian.
Meski hadir dengan kondisi kesehatan yang kurang prima, Doktif menegaskan tidak ada niat menyindir siapa pun, termasuk Richard Lee yang juga dikabarkan tengah sakit saat menjalani proses hukum di Polda Metro Jaya.
“Tolong ya, ini bukan untuk menyindir siapa-siapa. Doktif pakai masker karena memang kondisi Doktif lagi drop. Tapi bedanya, Doktif tetap berusaha kooperatif, tetap berusaha hadir meskipun harus begini. Kita tunjukkan kalau kita taat hukum,” kata Doktif di Polres Metro Jakarta Selatan, belum lama ini.
Doktif menjelaskan, dirinya memiliki riwayat sinusitis yang kerap kambuh saat kondisi tubuh menurun. Penyakit tersebut membuatnya harus mendapatkan perawatan medis, terutama ketika kelelahan berat.
“Yang jelas, teman-teman perlu tahu Doktif punya riwayat yang namanya sinusitis. Jadi memang kalau sudah kecapekan banget sampai sebegitunya, ini puncaknya, jadi drop banget,” ujarnya.
Alih-alih mengeluhkan pemeriksaan yang dijalaninya, Doktif justru mengaku prihatin terhadap ancaman hukuman yang menanti Richard Lee. Menurutnya, ancaman pidana hingga 12 tahun penjara atas laporan yang dia layangkan di Polda Metro Jaya bukanlah hal ringan.
“Kalau dibilang pusing, mungkin ya pusing. Tapi pusingnya itu mikirin sesama teman sejawat. Kok rasanya Doktif itu tega banget ya, melaporkan seorang DRL dengan ancaman 12 tahun plus 5 tahun,” ucapnya.
Doktif menyebut, sebagai sesama dokter, ancaman hukuman tersebut menjadi beban psikologis tersendiri bagi dirinya.
“Sebagai sesama dokter, ada rasa enggak tega. Itu yang justru membuat tekanan batin bagi Doktif sendiri,” ujarnya.
Editor: Dani M Dahwilani