Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Polda Metro Pastikan Bhabinkamtibmas Tak Pukul Penjual Es Gabus di Kemayoran
Advertisement . Scroll to see content

Di Balik Empati, Dedi Mulyadi Ungkap Fakta Ketidakjujuran Kakek Penjual Es Gabus

Sabtu, 31 Januari 2026 - 16:37:00 WIB
Di Balik Empati, Dedi Mulyadi Ungkap Fakta Ketidakjujuran Kakek Penjual Es Gabus
Di balik kisah pilu yang menyentuh hati masyarakat, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi justru menemukan fakta mengejutkan. (Foto: Dok)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Gelombang empati publik terhadap kakek penjual es gabus yang sempat viral mendadak berbalik arah. Di balik kisah pilu yang menyentuh hati masyarakat, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi justru menemukan fakta mengejutkan berupa ketidakjujuran pengakuan sang kakek terkait kondisi ekonomi keluarganya.

Temuan itu terungkap saat Dedi Mulyadi bertemu langsung dengan kakek tersebut, momen yang kemudian diunggah melalui akun media sosial pribadinya. Dalam video itu, sang kakek tampak menangis dan mengaku hidupnya kian terpuruk setelah viral. Dia menyebut sudah empat hari tidak berjualan karena trauma, sementara tekanan ekonomi terus menghimpit.

Di hadapan Dedi, kakek itu mengklaim menunggak biaya kontrakan serta biaya sekolah cucunya hingga mencapai Rp1,5 juta. “Saya mau nangis, Pak. Belum bayar kontrakan, belum bayar sekolah,” ujarnya dengan suara bergetar, dikutip Sabtu (31/1/2026).

Namun, simpati tersebut mulai dipertanyakan ketika Dedi melakukan klarifikasi singkat. Pengakuan sang kakek berubah. Dia menyebut biaya sekolah cucunya yang duduk di bangku sekolah dasar hanya Rp200.000 per bulan dan baru menunggak satu bulan.

Perbedaan data itu langsung memantik reaksi Dedi. Dia menilai klaim awal tidak selaras dengan fakta, terlebih cucu sang kakek bersekolah di sekolah negeri. “Sebulannya katanya 200. Harus dipastiin dulu saya, saya yakin bukan sekolah negeri deh. Enggak mungkin, Pak, sekolah negeri SD bayar 200,” ujar Dedi dengan nada heran.

Saat ditekan kembali, sang kakek menegaskan bahwa tunggakan sekolah memang baru satu bulan. Situasi itu membuat Dedi melontarkan teguran keras. Dia menekankan kejujuran sebagai modal utama menghadapi kesulitan hidup, bukan memainkan emosi publik.

“Bapak ini empat bulan apa sebulan sekolahan belum bayarannya? Sebulan. Berarti 200 dong, bukan sejuta setengah. Jangan ngarang. Kalau ingin hidup maju harus jujur. Kalau kitanya tidak jujur, nanti banyak dapat susah dalam hidupnya,” kata Dedi.

Meski menemukan indikasi ketidakjujuran, Dedi Mulyadi tidak serta-merta menarik empatinya. Dia tetap memberikan bantuan besar dengan total mencapai Rp10 juta. Bantuan itu meliputi pembayaran kontrakan satu tahun sebesar Rp9,6 juta, pelunasan utang beras Rp200.000, tunggakan sekolah Rp200.000, serta tambahan modal usaha tunai Rp2 juta.

Menariknya, Dedi memilih tidak menyerahkan sebagian besar bantuan secara langsung. Dia menginstruksikan stafnya membayarkan kewajiban tersebut langsung kepada pihak terkait demi mencegah penyalahgunaan.

“Bayaran sekolahnya saya cek dulu, Pak. Kontrakannya akan saya bayarin setahun langsung ke kontrakannya. Saya nggak percaya sama bapak ini bayar kontrakan sama sekolah. Sama bayar ke warungnya langsung nanti staf saya yang bayarin. Nah, ini aja buat modal Bapak dua juta,” kata Dedi.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut