Geger! Pegawai Kelab Malam Bersaksi Tak Melihat Betrand Peto Lakukan Kekerasan Seksual
JAKARTA, iNews.id - Pegawai kelab malam tempat Betrand Peto diduga melakukan kekerasan seksual, Jakaria, memberikan kesaksian mengenai kejadian yang berlangsung pada malam tersebut. Dia mengaku tidak melihat adanya pemerkosaan maupun pelecehan seksual selama berada di lokasi.
Kesaksian itu disampaikan ketika pegawai tersebut ditanya mengenai dugaan kekerasan seksual yang belakangan dikaitkan dengan Betrand Peto.
"Kalau untuk hal itu, sebenarnya sih enggak ada," ujar pegawai tersebut, dikutip dari unggahan video yang diunggah Ruben Onsu di Instagram, Senin (14/9/2026).
Dia mengatakan, tidak mengetahui adanya kejadian pemerkosaan atau pelecehan seksual seperti yang dilaporkan. Menurutnya, selama aktivitas di dalam kelab berlangsung, tidak ada cerita mengenai kejadian tersebut yang dia ketahui.
Pegawai tersebut memang mengetahui adanya keributan yang melibatkan sejumlah pengunjung perempuan dan laki-laki pada malam itu. Namun, menurut kesaksiannya, keributan tersebut bukan karena dia melihat adanya tindakan pemerkosaan atau pelecehan seksual.
Dia mengaku sempat melihat seorang perempuan menangis dan kemudian berusaha menanyakan apa yang terjadi. Perempuan tersebut tidak mau bercerita, sehingga pegawai itu mencoba mencari tahu kepada teman-temannya.
Situasi kemudian memanas ketika seorang perempuan lain yang mengalami luka pada telinga datang dan mempertanyakan alasan temannya menangis.
Keributan semakin besar hingga terjadi pertengkaran dan perkelahian. Pegawai kelab tersebut kemudian ikut melerai dan mengeluarkan perempuan yang terluka dari dalam ruangan.
Setelah berada di luar, pegawai itu kembali menanyakan penyebab keributan. Perempuan tersebut juga sempat mengatakan akan membawa persoalan itu ke media sosial.
"Saya akan viralkan semua ini," kata pegawai tersebut, menirukan ucapan perempuan itu.
Setelah kejadian tersebut, perempuan yang mengalami luka diketahui pergi ke rumah sakit.
Meski bersaksi tidak melihat adanya kekerasan seksual, pegawai tersebut mengakui dirinya tidak mengetahui seluruh aktivitas yang berlangsung di setiap ruangan.
Dia menyebut terdapat rekan-rekannya yang bertugas menjaga ruangan perempuan. Karena itu, menurut dia, para pegawai yang berada di dalam ruangan kemungkinan memiliki informasi lebih lengkap mengenai apa yang terjadi.
"Ada teman saya yang berdua jaga di room cewek, yang jaga room. Mungkin mereka lebih tahu," katanya.
Pegawai tersebut juga menyampaikan dugaan bahwa kondisi seseorang yang sedang mabuk dapat memengaruhi persepsi terhadap kejadian yang dialaminya.
"Mungkin dengan keadaan dia mabuk kali, ya. Dia merasa, 'saya dilecehkan'. Mungkin saja mau diperkosa segala macam. Tapi, ya, memang enggak ada sih," ujarnya.
Kesaksian pegawai kelab tersebut menjadi salah satu keterangan mengenai kejadian yang kini dikaitkan dengan nama Betrand Peto. Namun, pernyataan seorang saksi tidak dapat dijadikan sebagai kesimpulan hukum mengenai ada atau tidaknya tindak pidana.
Dugaan kekerasan seksual terhadap Betrand Peto tetap perlu dibuktikan melalui proses hukum dan pemeriksaan terhadap seluruh pihak yang mengetahui kejadian. Sampai ada keputusan hukum yang berkekuatan tetap, Betrand Peto tetap memiliki hak atas asas praduga tak bersalah.
Editor: Muhammad Sukardi