Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Resepsi Pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas Diwarnai Kirab Pengantin, Ini Fotonya!
Advertisement . Scroll to see content

Istimewa! Langendriyan dan Tari Gambyong Pareanom Meriahkan Pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas

Minggu, 08 November 2026 - 10:33:00 WIB
Istimewa! Langendriyan dan Tari Gambyong Pareanom Meriahkan Pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas
Gusti Sura dan Kanjeng Dimas di sesi Dhaup Ageng Mangkunegaran. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

SOLO, iNews.id - Resepsi pernikahan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas berlangsung istimewa. Tak hanya menjadi perayaan kebahagiaan kedua mempelai, Pahargyan Dhaup AgengMangkunegaran juga menghadirkan pertunjukan seni budaya yang memiliki nilai sejarah dan makna mendalam.

Dua kesenian khas Mangkunegaran, yakni Langendriyan dengan lakon Damarwulan Jumeneng Nata dan Tari Gambyong Pareanom, menjadi bagian dari rangkaian resepsi yang digelar pada Sabtu (7/11/2026) malam.

Menariknya, kedua pertunjukan tersebut tidak dipilih semata-mata sebagai hiburan bagi para tamu undangan. Langendriyan membawa pesan tentang perjuangan dan pengorbanan dalam mendapatkan cinta sejati, sementara Gambyong Pareanom memiliki hubungan erat dengan sejarah pernikahan keluarga Mangkunegaran.

Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Pengageng Kawedanan Langen Praja Pura Mangkunegaran, Nyi Ng. Retno Wulan Sulanjari, menjelaskan bahwa lakon Damarwulan Jumeneng Nata memiliki kedekatan dengan perjalanan cinta Gusti Sura dan Kanjeng Dimas.

Dalam cerita tersebut, Damarwulan digambarkan sebagai sosok yang harus melewati berbagai ujian dan perjuangan sebelum akhirnya dipersatukan dengan Ratu Ayu Kencanawungu.

"Lebih kepada penggambaran bahwa untuk mendapatkan cinta sejati diperlukan pengorbanan. Cerita itu kami angkat karena memiliki kedekatan dengan perjalanan kedua mempelai," ujar Retno Wulan dalam keterangan resmi yang diterima iNews.id, Minggu (8/11/2026).

Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Langendriyan di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Pemilihan lakon tersebut terasa semakin menarik jika melihat perjalanan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. Keduanya pertama kali bertemu pada 2015, tetapi sempat terpisah selama bertahun-tahun karena menjalani kehidupan masing-masing.

Tak disangka, keduanya kembali dipertemukan pada awal 2025 hingga akhirnya memutuskan untuk membangun rumah tangga bersama. Kisah pertemuan kembali setelah sekian lama itu memberikan makna tersendiri bagi pementasan Langendriyan dalam resepsi pernikahan mereka.

Langendriyan sendiri merupakan drama tari khas Mangkunegaran yang memadukan gerak tari, tembang, dan gending. Keunikannya terletak pada dialog antartokoh yang disampaikan melalui tembang, bukan percakapan biasa.

Cerita kemudian dibangun melalui perpaduan lantunan suara, irama gamelan, gerakan tubuh, dan ekspresi para penari. Seni pertunjukan ini menjadi salah satu warisan budaya Mangkunegaran yang terus dijaga keberlangsungannya.

Retno Wulan mengungkapkan, Langendriyan merupakan salah satu kesenian yang secara khusus diminta Gusti Sura untuk ditampilkan dalam rangkaian pahargyan. Pilihan tersebut sekaligus memperlihatkan keinginan menghadirkan seni tradisi sebagai bagian penting dari perayaan pernikahan.

Tari Gambyong Pareanom Dhauap Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Tari Gambyong Pareanom Dhauap Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Selain Langendriyan, Tari Gambyong Pareanom turut memeriahkan malam bahagia kedua mempelai. Tarian ini memiliki cerita sejarah yang tidak kalah istimewa karena berkaitan dengan tradisi pernikahan Mangkunegaran sejak puluhan tahun silam.

Gambyong Pareanom dibakukan oleh Nyi Bei Mintoraras pada 1950. Setahun kemudian, tarian tersebut pertama kali dipentaskan dalam pernikahan Gusti Nurul pada 1951.

Setelah 75 tahun berlalu, Gambyong Pareanom kembali hadir dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran. Kehadirannya menjadi penghubung antara perayaan pernikahan generasi sekarang dengan jejak tradisi yang telah diwariskan sejak masa sebelumnya.

Tari Gambyong Pareanom Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)
Tari Gambyong Pareanom Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Nama Pareanom merujuk pada warna hijau muda kekuningan yang menjadi bagian dari identitas Mangkunegaran.

"Gambyong Pareanom merupakan gambyong Mangkunegaran yang membawa pareanom, warna yang menjadi bagian dari identitas Mangkunegaran," kata Retno Wulan.

Pementasan Langendriyan dan Gambyong Pareanom memberikan pengalaman budaya tersendiri dalam resepsi pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. Kedua kesenian tersebut menghadirkan dua sisi tradisi Mangkunegaran, yakni seni yang menuturkan pesan kehidupan dan seni yang menyimpan jejak sejarah.

Melalui Pahargyan Dhaup Ageng, kebahagiaan kedua mempelai pun dirayakan bersama warisan budaya yang terus hidup dan diteruskan dari generasi ke generasi.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut