Kerap Bersikap Kritis, Kunto Aji Buka Suara soal Ancaman Diboikot Promotor Musik
JAKARTA, iNews.id - Musisi Kunto Aji buka suara mengenai risiko kehilangan pekerjaan hingga ancaman diboikot promotor musik akibat sikap kritisnya dalam menyuarakan berbagai persoalan sosial dan politik. Dia dikenal sebagai salah satu musisi yang vokal menanggapi isu-isu terkini, baik melalui media sosial maupun saat tampil di atas panggung.
Kunto Aji menyadari sikap tersebut berpotensi memengaruhi kesempatan tampil di berbagai acara musik. Namun, penyanyi berusia 39 tahun itu bersyukur sikap kritisnya sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap undangan manggung yang diterimanya dari promotor.
"Alhamdulillah sejauh ini sih enggak terlalu berpengaruh menurut saya ya, yang datang ke saya. Tapi saya enggak tahu kalau misalnya yang enggak menghubungi saya enggak tahu," ujar Kunto Aji di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Meski demikian, Kunto tidak menutup kemungkinan ada pihak yang memilih tidak menghubunginya karena pandangan yang selama ini disuarakan. Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah sikap kritisnya pernah membuat promotor mengurungkan niat untuk mengundangnya.
Menurut Kunto, keresahan yang disampaikannya bukan berasal dari kepentingan atau agenda pribadi. Dia justru merasa banyak masyarakat memiliki kegelisahan serupa terhadap berbagai persoalan yang terjadi di kehidupan sehari-hari.
"Tapi sejauh ini saya bertemu dengan orang, karena ini bukan keresahan yang hanya dirasakan satu dua orang dan kita tidak punya kepentingan di sini gitu. Jadi menurut saya secara kolektif kita merasakan keresahan yang sama gitu," katanya.
Bagi Kunto, musisi tidak hanya bertugas menghibur masyarakat melalui karya dan penampilan di atas panggung. Mereka juga memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan persoalan yang dirasakan masyarakat, terutama kelompok yang tidak memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Dia menilai popularitas dan akses yang dimiliki seorang musisi dapat dimanfaatkan untuk mengangkat suara masyarakat agar mendapat perhatian lebih luas.
"Menurut saya, musisi punya tanggung jawab. Kita sebagai orang-orang yang mewakili suara-suara di luar sana, mewakili orang-orang yang tidak bisa bersuara, kita harus mengeluarkan keresahan-keresahan itu. Jangan hanya sampai di bawah saja biar suara-suara itu muncul di permukaan," ujarnya.
Kunto pun menegaskan pentingnya keberanian musisi untuk tidak sekadar menjadi penghibur. Menurutnya, karya dan suara seorang seniman juga bisa menjadi medium untuk menyampaikan keresahan kolektif yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Editor: Dani M Dahwilani