Komnas PA Sentil Ruben Onsu dan Sarwendah: Buang Ego, Anak Jangan Jadi Korban!
JAKARTA, iNews.id - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyoroti polemik perebutan dan pengasuhan anak antara mantan pasangan suami istri, Ruben Onsu dan Sarwendah. Di tengah perseteruan yang kian meruncing, Komnas PA meminta kedua pihak mengesampingkan ego masing-masing demi kepentingan dan kondisi psikologis anak.
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Agustinus Sirait, menegaskan kepentingan terbaik anak harus ditempatkan di atas kepentingan orang tua. Menurutnya, anak tidak boleh menjadi korban dari perselisihan orang dewasa yang terus menjadi konsumsi publik.
"Saya sebagai Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak meminta perhatian kepada pasangan yang sedang berkonflik: sekali lagi, buang seluruh ego masing-masing. Kalau memang sayang terhadap anak-anak kita, ya, kedepankanlah kepentingan terbaik untuk anak," tegas Agustinus Sirait dalam konferensi pers baru-baru ini.
Agustinus juga meminta Ruben maupun Sarwendah tidak saling menutup akses pertemuan dengan anak. Dia mengingatkan bahwa anak tetap memiliki hak untuk bertemu dan berhubungan dengan kedua orang tuanya meski keduanya telah berpisah.
"Kemarin kami sampaikan bahwa tidak boleh ada satu pihak pun yang menutup akses untuk bertemu dengan apakah ayah atau ibu. Dalam hal terjadi perpisahan, anak tetap mendapatkan hak bertemu langsung dan berhubungan pribadi secara tetap dengan kedua orang tuanya. Hak itu adalah milik anak, bukan milik salah satu orang tua," ujar Agustinus.
Lebih lanjut, Agustinus menyarankan Ruben dan Sarwendah menahan diri dari membuat unggahan maupun pernyataan di media sosial yang melibatkan anak. Dia mendorong keduanya mengutamakan mediasi dan dialog kekeluargaan daripada saling menyerang di ruang publik atau membiarkan persoalan berlarut-larut di pengadilan.
"Sebetulnya kalau kita kembali kepada rasa sebagai orang tua, sebetulnya kita ngapain kita ke pengadilan? Apalagi mereka sudah punya kesepakatan bersama sebetulnya. Tinggal kalaupun hari ini berubah, ada sesuatu hal yang berubah, ya cukup dibicarakan," kata Agustinus.
Menurut Agustinus, konflik orang tua yang terbuka di hadapan publik berpotensi membuat anak menyaksikan kondisi keluarga yang tidak semestinya menjadi tontonan mereka.
"Kita sedang mempertontonkan kepada anak kondisi yang carut-marut. Dan ini tidak layak untuk anak tonton sebetulnya. Dalam perebutan hak asuh, tidak ada orang tua yang menang bila anaknya kalah," katanya.
Editor: Dani M Dahwilani