Lansia Harus Bahagia agar Tak Cepat Sakit, Kemenkes Ingatkan Risiko Kanker hingga Jantung
JAKARTA, iNews.id – Menjaga kesehatan pada usia lanjut (lansia) tidak hanya soal mengontrol kondisi fisik, tetapi juga memastikan kesehatan mental dan kebahagiaan tetap terjaga. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai kebahagiaan menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah munculnya berbagai penyakit kronis di usia senja.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, mengatakan kondisi psikologis lansia memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan tubuh. Menurutnya, perasaan tidak bahagia dapat memicu respons negatif pada sel-sel tubuh yang berujung pada percepatan munculnya penyakit degeneratif.
"Kita perlu menyampaikan bahwa lansia itu harus bahagia. Karena kalau nggak bahagia tubuh kita juga akan meresponnya negatif. Sel-sel tubuh kita juga akan merespon negatif, sehingga akan muncul penyakit-penyakit degeneratif secara lebih cepat," kata dr Imran usai Puncak Hari Lanjut Usia 2026, Sabtu (13/6/2026).
Dia menjelaskan, dampak dari kondisi psikologis yang buruk tidak bisa dianggap sepele. Respons negatif tubuh akibat stres atau ketidakbahagiaan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.
"Kanker, kemudian penyakit tidak menular, darah kita akan lebih kental ya sehingga akan lebih memudahkan kita kena sakit jantung, hipertensi dan lain-lain," ujar dr Imran.
Sebab itu, upaya menjaga kesehatan lansia perlu dilakukan secara menyeluruh atau holistik. Selain menjaga kebugaran fisik, aspek kesehatan mental juga harus menjadi perhatian agar kualitas hidup lansia tetap baik.
Untuk menjaga kondisi fisik, dr. Imran menyarankan lansia rutin melakukan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki. Aktivitas tersebut dinilai efektif menjaga kesehatan jantung tanpa harus menguras energi secara berlebihan.
"Jadi intinya kita selain tadi aktivitas fisik ya juga harus bahagia. Aktivitas fisik ini yang kami perlu sampaikan adalah tidak usah terlalu berat sebetulnya. Minimal jalan 30 menit sehari, seminggu minimal lima kali untuk bisa menjaga tubuh kita, jantungnya lebih sehat," ucap dia.
Selain olahraga aerobik, lansia juga dianjurkan melakukan latihan kekuatan dengan beban ringan. Menurut dr. Imran, latihan ini penting karena massa otot manusia secara alami mulai berkurang sejak usia 30 tahun.
"Dan yang kedua ternyata angkat beban. Nah, kenapa? Karena ternyata secara fisiologis sejak usia kita 30 tahun otot kita itu berkurang. Nah, kalau kita berkurang kekuatan kita lemah akhirnya juga tidak bisa menopang badan dengan baik," kata dia.
Dia menjelaskan, berkurangnya massa otot membuat tubuh lebih bergantung pada tulang sebagai penopang. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko osteoporosis pada lansia.
"Yang menopang hanya tulang sehingga akhirnya nanti kena osteoporosis ya dan lain-lain. Jadi kita harus ada angkat beban. Tidak usah beban barbel yang ratusan kilo jauh usah gitu ya," ujar dr. Imran.
Editor: Dani M Dahwilani