Madam Curhat soal Mantan di Bukber, Azia dan Umi Riza Auto Geleng-Geleng
JAKARTA, iNews.id – Episode YA SALAM kali ini kembali menghadirkan obrolan santai yang mengangkat fenomena yang paling erat kiatannya dengan bulan puasa. Dipandu oleh Ukhti Azia bersama Umi Riza dan Madam, episode kali ini membahas salah satu agenda yang hampir selalu muncul setiap Ramadhan, yaitu bukber atau buka bersama.
Kajian kali ini dibuka dengan suasana yang sudah terasa hangat dan penuh candaan. Azia sempat menegur Madam yang datang ke kajian dengan dandanan lengkap seperti ingin menghadiri acara besar. Candaan tersebut langsung disambut tawa dari Umi Riza yang menyebut penampilan Madam seperti “adonan ayam goreng”.
Di balik suasana santai itu, Umi Riza kemudian menyampaikan pesan utama mengenai bukber. Umi Riza menyatakan dengan tegas bahwa kegiatan buka bersama tersebut seharusnya menjadi sarana mempererat silaturahmi serta menambah pahala.
Namun dalam praktiknya di kehidupan sehari-hari, bukber sering berubah menjadi ajang pamer. Tidak jarang seseorang datang hanya untuk menunjukkan penampilan, pekerjaan, atau pencapaian hidup kepada teman-temannya.
Azia menambahkan bahwa fenomena tersebut sering terlihat di grup yang awalnya ramai merencanakan bukber, namun kemudian berubah menjadi tempat membicarakan orang yang tidak hadir.
Sesi tanya jawab dalam kajian ini juga kembali menjadi bagian paling menarik. Seorang jamaah bertanya mengenai kebiasaan memesan makanan mahal saat bukber hanya untuk mendapat pujian dari teman-teman. Umi Riza menjawab pertanyaan tersebut dengan gaya humor khasnya sambil mengingatkan bahwa tindakan tersebut lebih dekat dengan sikap sombng dan juga ria.
Tak ketinggalan, Madam juga melontarkan pertanyaan tentang mantannya yang tiba-tiba mengajak untuk balikan saat acara bukber. Pertanyaan tersebut langsung diluruskan oleh Umi Riza yang menegaskan bahwa pertemuan saat Ramadhan seharusnya membawa kebaikan, bukan membuka kembali hubungan yang tidak jelas arahnya dan hanya menambah dosa.
Melalui dialog yang santai dan penuh candaan, YA SALAM kembali menunjukkan bahwa dakwah dapat disampaikan dengan cara ringan namun tetap bermakna.
Editor: Dani M Dahwilani