Melawan Sifat Malas untuk Membuka Pintu Kebaikan
JAKARTA, iNews.id – Pernahkah kita mendengar suara azan tetapi tak bergegas mengambil wudu? Seringkah kita mendahulukan gadget daripada pekerjaan wajib? Malas. Demikian yang sering terjadi. Banyak orang memilih untuk bersikap santai, mengabaikan prioritas, atau menunda hal-hal penting karena enggan bergerak.
Sifat malas memang manusiawi. Siapapun pernah merasakan kendur semangat. Tetapi itu bukan untuk dipupuk dan diterapkan sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Islam memerintahkan umatnya untuk menjauhi sikap malas. Mengapa? Malas dan lemah akan menjauhkan seseorang dari Allah SWT.
Ini seperti dijelaskan dalam firman Allah: ”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS An-Nisa: 142).
Malas bisa diartikan sebagai keengganan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dilakukan. Sebagai contoh, tidak disiplin, mencari-cari alasan pembenar, menolak tugas, maupun mengalihkan kewajibannya pada orang lain. Dalam konteks hablumminallah, malas itu bisa menunda-nunda kewajiban melaksanakan ibadah atau malah mengabaikannya sama sekali.
Orang yang malas sesungguhnya termasuk golongan yang sangat merugi. Sebab, kemalasan merupakan kunci bencana. Orang yang malas akan jauh dari keimanan dan ketakwaan. Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan agar umat Islam senantiasa disiplin dan tak menyiakan waktu.