Peringati Hari Anak Perempuan Internasional, Plan Indonesia Gelar Kampanye Global #Girlstakeover
JAKARTA, iNews.id - Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) kembali menggelar kampanye global #Girlstakeover bertajuk "Sehari Jadi Pemimpin 2020". Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh pada 11 Oktober 2020.
Kampanye global #Girlstakeover kali ini mengusung tema “Freedom Online”. Di mana anak perempuan akan mengambil alih akun media sosial para tokoh serta bersama-sama menyuarakan kebebasan berekspresi di ranah daring.
Tahun ini, terdapat lima tokoh yang berkomitmen memberikan ruang bagi lima anak perempuan untuk bersuara di media sosial mereka. Mereka adalah Najwa Shihab, pegiat isu kesetaraan gender dan aktris Hannah Al Rashid, Staf Khusus Presiden RI Angkie Yudistia, Anggota DPR RI Komisi 1 Muhammad Farhan, serta Ketua umum Gerakan Inovator 4.0 Indonesi Budiman Sudjatmiko.
Sementara lima anak perempuan yang terpilih melalui seleksi ketat adalah Patrichia dari Papua, Devie dari Maluku Utara, Phylia dari Nusa Tenggara Timur, Salwa dari Kalimantan Timur dan Fayanna dari Jawa Barat. Sebelumnya, mereka terlibat dalam serangkaian kegiatan seleksi melalui seminar daring, kelas kepemimpinan hingga kompetisi video blog tentang Freedom Online yang diikuti lebih dari enam ratus anak perempuan di Indonesia.
Direktur Influencing Yayasan Plan International Indonesi Nazla Mariza menuturkan, tema freedom online ditujukan untuk merespon tingginya kegiatan daring anak di masa pandemi Covid-19.
"Tema Freedom Online bermaksud merespon tingginya kegiatan daring anak di masa pandemi Covid-19," ujar Nazla dikutip dari siaran pers, Selasa (29/9/2020).
Nazla menuturkan, perlu adanya penanganan serius terhadap KBGO karena dapat membuat anak merasa tertekan, hilang kepercayaan diri, mengisolasi diri, bahkan dapat membungkam suara dan kesempatan mereka untuk maju.
"Intensitas kegiatan daring ini turut berdampak pada meningkatnya risiko Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang kerap dialami anak perempuan," kata Nazla.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, angka pengguna internet selama pandemik COVID-19 meningkat hingga 40 persen. Kominfo dan berbagai perusahaan media sosial telah mengeluarkan beragam regulasi untuk memastikan keamanan di ranah daring, namun KBGO masih kerap terjadi.
Menurut data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, KBGO meningkat dari 65 kasus di 2018 hingga 97 kasus di 2019. Beberapa jenis KBGO diantaranya ancaman penyebaran foto atau video pribadi, pelecehan seksual, hingga ejekan terhadap fisik seseorang.
Sementara perempuan 27 kali lebih sering mengalami pelecehan daring dibanding laki-laki, mengutip data dari Plan International. Menurut Nazla, selain regulasi, diperlukan mekanisme pelaporan yang efektif dan edukasi yang semakin intensif kepada pengguna internet, khususnya bagi anak-anak di masa pandemik ini.
Media sosial kini telah menjadi media komunikasi utama dan bagian dari kehidupan sehari-hari kaum muda termasuk anak perempuan. Oleh karena itu, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya upaya serius dari berbagai pihak terhadap penanganan KBGO demi mendorong kebebasan berekspresi khususnya anak perempuan di dunia daring.
Editor: Tuty Ocktaviany