Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Hamil 4 Bulan, Irish Bella Ternyata Jalani Program Bayi Tabung di Kuala Lumpur sejak Setahun Lalu
Advertisement . Scroll to see content

Perjalanan IVF Irish Bella Tak Mudah, Sempat Gagal hingga Ganti Strategi

Kamis, 10 September 2026 - 14:28:00 WIB
Perjalanan IVF Irish Bella Tak Mudah, Sempat Gagal hingga Ganti Strategi
Artis Irish Bella tengah mengandung. (Foto: Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Perjalanan program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) tidak selalu berjalan mulus. Bagi sebagian pasangan, kegagalan pada satu siklus justru menjadi titik untuk mengevaluasi kembali kondisi dan menentukan strategi medis yang lebih sesuai.

Hal tersebut juga dialami aktris Irish Bella yang sempat menjalani dua kali inseminasi sebelum memutuskan mengikuti program IVF. Perjalanan bayi tabung yang dijalaninya berlangsung sekitar satu tahun dan tidak selalu mudah, terutama dari sisi fisik maupun emosional.

Irish membagikan pengalamannya dalam The Alhaya Fertility Journey 2026 di Jakarta. Dalam acara tersebut, dia bercerita mengenai proses yang dijalani bersama suaminya, mulai dari pengalaman IVF pertama hingga keputusan mencari pendekatan medis lain setelah mengalami kegagalan.

Aktris Irish Bella saat menceritakan perjalanan bayi tabungnya. (Foto: Istimewa)
Aktris Irish Bella saat menceritakan perjalanan bayi tabungnya. (Foto: Istimewa)

"Rasanya campur aduk. Bukan hanya secara fisik karena sakit, tetapi secara emosi juga luar biasa. Saat stimulasi hormon, mood swing itu sangat terasa," ujar Irish.

Dalam program IVF, salah satu tahapan penting adalah perkembangan embrio setelah proses pembuahan. Embrio yang berkembang hingga tahap blastokista kemudian dapat menjadi bagian dari proses seleksi dan persiapan untuk transfer embrio sesuai pertimbangan dokter.

Setelah kegagalan IVF sebelumnya, Irish dan suami memutuskan mencari pilihan lain. Salah satu pertimbangan suaminya adalah keinginan agar program tersebut ditangani dokter perempuan, termasuk ketika menjalani prosedur medis.

Keduanya kemudian mendapatkan rekomendasi dan pendampingan dari TripMedis hingga akhirnya bertemu dengan Dr. Wan Syahirah Binti Yang Mohsin atau Dr. Sera dari Alhaya Fertility Kuala Lumpur.

Irish kemudian menjalani dua siklus IVF di klinik tersebut.

Pada siklus pertama, tim medis sudah berhasil mendapatkan embrio meskipun jumlah blastokista yang diperoleh belum banyak. Bagi Irish, hasil tersebut menjadi perkembangan dibandingkan pengalaman sebelumnya ketika dia tidak berhasil mendapatkan blastokista.

Pada siklus berikutnya, tim medis melakukan pendekatan yang berbeda sehingga memperoleh hasil yang lebih baik.

Mengapa Strategi IVF Bisa Berbeda pada Setiap Pasangan?

Dokter Sera menjelaskan, pasien yang sebelumnya tidak berhasil mendapatkan blastokista membutuhkan evaluasi dan strategi yang lebih individual.

Pendekatan tersebut dapat mencakup penyesuaian protokol stimulasi ovarium, pemilihan obat serta dosis, hingga pemanfaatan teknologi di laboratorium embriologi.

Dalam kasus tertentu, teknologi seperti Embryoscope+ Timelapse dan AI Scoring dapat digunakan untuk membantu pemantauan serta penilaian perkembangan embrio. Sementara itu, PICSI digunakan untuk membantu proses seleksi sperma berdasarkan karakteristik tertentu.

Ada pula GX-Media yang digunakan untuk mendukung lingkungan kultur embrio selama proses perkembangan di laboratorium.

Namun, teknologi bukan berarti dapat menghilangkan seluruh ketidakpastian dalam program bayi tabung.

"Namanya IVF, hasilnya tetap tidak bisa 100 persen keberhasilan. Tetapi kami mencoba memberikan yang terbaik dengan teknologi terbaik dan kepakaran yang kami miliki," kata Dr. Sera.

Dokter dan Pasien Harus Menjadi Satu Tim

Bagi Irish, faktor dokter ternyata tidak kalah penting dibandingkan teknologi yang digunakan.

Dia mengaku membutuhkan dokter yang tidak hanya mampu menjelaskan aspek medis, tetapi juga memberikan rasa aman selama menjalani proses yang penuh ketidakpastian.

"Menurut saya, kita harus cocok dengan dokternya. Dokternya harus support sama kita," ujar Irish.

Menurut dia, ketidakpastian menjadi salah satu bagian paling berat selama menjalani program hamil.

"Saya tidak suka hal-hal yang tidak pasti," tuturnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan IVF tidak hanya berkaitan dengan prosedur medis. Pasangan juga harus menghadapi perubahan hormon, proses stimulasi, tindakan medis, penantian hasil pemeriksaan, hingga kemungkinan berhasil atau gagal.

Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, yang menjadi moderator dalam talkshow tersebut, mengatakan pasangan yang menjalani program hamil memang akan berhadapan dengan banyak hal yang berada di luar kendali mereka.

Karena itu, dukungan dari pasangan dan keluarga menjadi bagian penting selama menjalani proses tersebut.

Irish merasakan sendiri dukungan tersebut. Dalam beberapa kesempatan, dia bahkan mendapat bantuan dari suami maupun anaknya ketika harus menjalani suntikan selama program.

IVF Bukan Sekadar Teknologi

Dokter Sera menilai komunikasi antara dokter dan pasien juga menjadi bagian penting dalam program bayi tabung. Menurut dia, Irish dan suaminya termasuk pasangan yang kooperatif dan terbuka dalam berdiskusi mengenai rencana pengobatan.

“Dalam bayi tabung, dokter dan pasien adalah tim,” ujar Dr. Sera.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keputusan dalam IVF idealnya tidak hanya bertumpu pada kecanggihan teknologi. Kondisi pasien, respons terhadap stimulasi, riwayat program sebelumnya, serta komunikasi dengan dokter turut menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah berikutnya.

Bagi Irish, pertemuannya dengan dr Sera menjadi bagian yang sangat dia syukuri setelah melalui perjalanan IVF yang panjang.

“Alhamdulillah, Tuhan mempertemukan saya dengan Dr. Sera. Dokter perempuan yang Masya Allah luar biasa, bukan hanya mendampingi secara medis tetapi juga secara emosional. Walaupun pasiennya banyak, saat bertemu pasien semuanya dilayani dengan sangat baik. Saya sangat merekomendasikan Dr. Sera,” kata Irish.

Dalam acara tersebut, turut hadir lima bayi yang disebut telah lahir dari program IVF bersama Dr. Sera di Alhaya Fertility dalam dua tahun terakhir. Mereka hadir bersama keluarga masing-masing.

Alhaya Fertility Kuala Lumpur kini telah memperoleh akreditasi RTAC (Reproductive Technology Accreditation Committee), yang menjadi bagian dari standar penilaian terhadap layanan teknologi reproduksi berbantu.

Apdal dari Marketing Alhaya Fertility mengatakan standar medis dan teknologi memang menjadi bagian penting dalam layanan fertilitas. Namun, pengalaman pasien selama menjalani proses tersebut juga menjadi perhatian.

“Yang paling penting adalah memastikan setiap pasien merasa didampingi, didengar, dan diberikan perawatan terbaik sepanjang perjalanan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, David selaku Direktur TripMedis mengatakan pihaknya selama hampir 10 tahun telah membantu pasien Indonesia menemukan rumah sakit dan dokter yang sesuai dengan kebutuhan mereka di Malaysia, termasuk pasangan yang menjalani program bayi tabung.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut