Profil Ida Farida, Sutradara Senior yang Meninggal Dunia
JAKARTA, iNews.id - Dunia perfilman Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok pentingnya. Sutradara senior sekaligus penulis skenario Ida Faridameninggal dunia pada Kamis, 3 September 2026.
Ida Farida meninggal dunia dalam usia 88 tahun. Ia lahir di Rangkasbitung, Banten, pada 5 Mei 1938.
Kepergian Ida Farida menjadi kehilangan bagi perfilman Indonesia. Selama puluhan tahun berkarier, ia meninggalkan sejumlah karya di layar lebar maupun televisi.
Namanya mungkin tidak selalu berada di depan kamera dan tidak seterkenal para pemain yang membintangi film-filmnya. Namun, Ida Farida merupakan salah satu perempuan yang memiliki perjalanan panjang di balik layar industri film Indonesia.
Siapa Ida Farida? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini.
Ida Farida merupakan sutradara sekaligus penulis skenario yang memulai perjalanan seninya dari dunia tulis-menulis.
Sebelum masuk ke industri film, Ida sudah menulis cerita pendek ketika masih duduk di bangku sekolah. Ia kemudian berkiprah sebagai wartawati yang meliput dunia film dan hiburan.
Kecintaannya terhadap cerita kemudian membawanya semakin jauh ke industri perfilman.
Ida terjun langsung ke dunia film pada 1974. Saat itu, ia bekerja sebagai script girl atau pencatat skrip dalam film Melawan Badai yang disutradarai Sofia W.D.
Dari sana, karier Ida berkembang. Ia kemudian dipercaya menjadi asisten sutradara dalam film Jangan Menangis Mama pada 1977.
Dua tahun kemudian, Ida mendapatkan kesempatan untuk duduk di kursi sutradara.
Film Guruku Cantik Sekali menjadi debut Ida Farida sebagai sutradara pada 1979.
Menariknya, film tersebut juga menjadi salah satu bukti kemampuan Ida dalam menulis skenario. Arsip perfilman mencatat Ida berperan sebagai sutradara sekaligus penulis naskah.
Setelah debut tersebut, karya-karyanya terus bermunculan.
Ia menyutradarai Busana dalam Mimpi (1980), Perawan-Perawan (1981), Merenda Hari Esok (1981), Tirai Malam Pengantin (1983), Tante Garang (1983), Asmara di Balik Pintu (1984), hingga Tak Ingin Sendiri (1985).
Dalam sejumlah karya tersebut, Ida tidak hanya bertugas sebagai sutradara. Ia juga kerap merangkap sebagai penulis skenario.
Latar belakangnya sebagai penulis membuat cerita menjadi salah satu kekuatan utama dalam karya-karyanya.
Perjalanan Ida Farida tidak berhenti di Indonesia.
Setelah menyutradarai Tak Ingin Sendiri pada 1985, Ida mendapat kesempatan bekerja di Malaysia. Ia disebut menetap dan berkarya di negeri jiran tersebut selama hampir empat tahun.
Salah satu film Malaysia yang disutradarainya adalah Suara Kekasih yang dirilis pada 1986.
Film tersebut dibintangi sejumlah aktor Malaysia, di antaranya Fauziah Ahmad Daud dan Azmil Mustapha. Kredit film juga mencatat Ida Farida sebagai sutradara.
Kiprah tersebut menunjukkan bahwa kemampuan Ida sebagai sineas tidak hanya mendapat tempat di industri film Indonesia.
Salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan karier Ida Farida terjadi pada Festival Film Indonesia 1989.
Lewat film Semua Sayang Kamu, Ida berhasil meraih Piala Citra untuk Skenario Terbaik.
Film yang dirilis pada 1989 tersebut disutradarai sekaligus ditulis oleh Ida Farida. Ceritanya diangkat dari persoalan bayi yang tertukar dan kemudian berkembang hingga ke pengadilan.
Pada FFI 1989, Ida tidak hanya membawa pulang penghargaan. Ia juga masuk nominasi untuk kategori Sutradara Terbaik dan Cerita Asli Terbaik melalui film yang sama.
Piala Citra tersebut menjadi pengakuan penting terhadap kemampuan Ida sebagai penulis skenario.
Selain Guruku Cantik Sekali dan Semua Sayang Kamu, sejumlah film yang tercatat dalam filmografi Ida Farida antara lain:
Arsip Indonesian Film Center dan IMDb juga mencatat keterlibatan Ida sebagai penulis dalam sejumlah karya tersebut.
Ida juga tercatat terlibat dalam Kuberikan Segalanya (1992) sebagai penulis cerita. Karya tersebut masuk nominasi FFI 1992 untuk kategori Cerita Asli untuk Film.
Ketika industri film nasional mengalami masa sulit, Ida Farida juga memperluas kiprahnya ke televisi.
Salah satu sinetron yang menjadi bagian dari perjalanan kariernya adalah Aku Mau Hidup pada 1994.
Sinetron tersebut bahkan berkaitan dengan penghargaan Festival Sinetron Indonesia 1994. Meriam Bellina memperoleh penghargaan Pemeran Wanita Terbaik melalui sinetron tersebut.
Ida kemudian kembali menggarap serial televisi. Salah satunya adalah Wanita pada 1996, yang kembali mempertemukannya dengan Meriam Bellina.
Salah satu fakta menarik dari perjalanan Ida Farida adalah keterlibatannya dalam sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan.
Ida disebut menangani 12 episode awal sinetron tersebut sebelum penyutradaraan kemudian diteruskan oleh Rano Karno.
Hal tersebut membuat Ida memiliki bagian dalam fase awal kelahiran salah satu sinetron paling dikenang dalam sejarah televisi Indonesia.
Namun, kredit yang tersedia untuk serial secara keseluruhan mencantumkan Rano Karno sebagai sutradara, sementara Ida Farida tercatat sebagai penulis. Karena itu, penyebutan yang paling aman adalah Ida Farida menangani 12 episode awal, bukan sebagai satu-satunya sutradara sepanjang serial.
Ida Farida juga berasal dari keluarga yang memiliki hubungan kuat dengan dunia perfilman.
Ia disebut sebagai adik kandung penulis skenario dan tokoh perfilman Indonesia Misbach Yusa Biran, serta aktris Ani Hidayat.
Dengan demikian, dunia film bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi Ida sejak awal perjalanan hidupnya. Namun, ia kemudian membangun jalannya sendiri sebagai penulis, sutradara, dan sineas perempuan.
Salah satu karakteristik yang menarik dari film-film Ida Farida adalah perhatian terhadap persoalan perempuan.
Dalam sejumlah karyanya, perempuan ditempatkan sebagai tokoh yang menghadapi persoalan kehidupan, hubungan, perkawinan, perselingkuhan, hingga posisi mereka dalam relasi dengan laki-laki.
Sebuah arsip wawancara dan catatan mengenai Ida menyebut bahwa film-filmnya kerap menyuarakan persoalan perempuan dan bagaimana perempuan berusaha mempertahankan hak serta harga dirinya.
Hal tersebut menjadi salah satu jejak yang membuat Ida Farida memiliki posisi penting dalam sejarah sineas perempuan Indonesia.
Dedikasi panjang Ida Farida terhadap perfilman nasional juga mendapat penghargaan.
Pada Hari Film Nasional 2023, Badan Perfilman Indonesia memberikan Anugerah Tali Kasih kepada sejumlah insan film senior Indonesia, termasuk Ida Farida.
Dalam catatannya, BPI kembali menyoroti perjalanan Ida sejak menjadi script girl pada 1974, asisten sutradara pada 1977, hingga menjadi sutradara pada 1979.
BPI juga mencatat Piala Citra yang diraih Ida pada 1989 serta nominasi yang diperolehnya pada FFI 1989 dan 1992.
Informasi mengenai kehidupan pribadi Ida Farida tidak sebanyak catatan mengenai perjalanan profesionalnya.
Sejumlah arsip lebih banyak mengabadikan sosok Ida sebagai pekerja film, penulis dan sutradara.
Dalam salah satu tulisan mengenai dirinya, Ida digambarkan sebagai sosok yang sangat mencintai cerita. Ia disebut memiliki perhatian besar terhadap kekuatan cerita dalam sebuah film.
Ia juga dikenal dengan penampilannya yang khas ketika masih aktif sebagai sutradara, dengan gaya yang cenderung sederhana dan tomboy.
Ida pernah mengungkap dirinya sebagai perokok berat. Namun, dalam perjalanan hidupnya ia kemudian mengalami perubahan setelah mendapat kesempatan menjalankan ibadah Umrah bersama rombongan Si Doel Anak Sekolahan.
Detail mengenai pasangan, anak, maupun kehidupan keluarga Ida Farida sendiri relatif jarang diberitakan dalam sumber-sumber perfilman yang tersedia. Karena itu, informasi tersebut sebaiknya tidak ditambahkan tanpa sumber yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah puluhan tahun mengabdikan diri pada dunia perfilman, perjalanan Ida Farida akhirnya berakhir.
Festival Film Indonesia menyampaikan kabar duka atas meninggalnya Ida Farida pada 3 September 2026.
Dewan Kesenian Jakarta juga menyampaikan belasungkawa dan mengenang jasa Ida sebagai salah satu sineas yang telah memberikan dedikasi panjang bagi perfilman Indonesia.
Karya-karyanya, mulai dari film layar lebar, film Malaysia, hingga sinetron televisi, menjadi bagian dari perjalanan panjang perfilman nasional.
Termasuk Si Doel Anak Sekolahan, yang pada masa awalnya turut ditangani Ida Farida sebelum kemudian diteruskan Rano Karno.
Kini, Ida Farida telah pergi. Namun, nama dan jejaknya sebagai sutradara, penulis skenario, serta salah satu perempuan yang ikut mewarnai sejarah perfilman Indonesia akan tetap hidup melalui karya-karyanya.
Selamat jalan, Ida Farida.
Editor: Muhammad Sukardi