Tidak Selalu Motif Ekonomi, Ini Penyebab Artis Terlibat Prostitusi

Okezone ยท Minggu, 13 Januari 2019 - 13:44 WIB
Tidak Selalu Motif Ekonomi, Ini Penyebab Artis Terlibat Prostitusi

Ilustrasi prostitusi artis (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Masyarakat semakin penasaran dengan kasus prostitusi online yang melibatkan kalangan artis. Kenapa mereka bisa terseret dalam kasus tersebut?

Pertanyaan itu muncul karena artis dikenal publik memiliki penghasilan tinggi. Namun, menurut seorang guru besar sosiologi, Prof. Dr. Drs. Bagong Suyanto, M.Si, motivasi seorang artis yang terlibat dalam prostitusi tidak selalu ekonomi. Hedonisme pun menjadi salah satu faktor utama.

“Tidak selalu motivasinya ekonomi, bahkan ada sebagian besar motivasinya sosial. Sosial itu, bisa juga korban narkoba sudah mengonsumsi narkoba. Artis itu akan rela melakukan apa pun atau sejelek-jeleknya itu, mereka korban gaya hidup hedonis. Artis itu kan diberitakan Syahrini tas Hermesnya seharga miliaran, itu kan menimbulkan juga keinginan dari artis-artis kelas dua untuk meniru, mungkin lalu potong kompas lewat jalur itu,” kata Prof. Dr. Drs. Bagong Suyanto, M.Si, dikutip dari Okezone, Minggu (13/1/2019).

Tidak cukup sampai di situ saja, ternyata gaya hidup dan cara bergaul para artis pun turut ambil andil dalam mendorong mereka melakukan prostitusi. Profesor Bagong mengatakan, lingkungan pergaulan yang ‘remang-remang’ dan kerja malam berpotensi lebih mudah menjerumuskan artis ke dunia prostitusi.

Menurut Profesor Bagong, sekalipun artis berperangai baik, jika sistem sosial di sekitarnya buruk, sistem tersebut dapat mengubah perangai yang semula baik. Lingkungan sosial pula akan memengaruhi cara berpikir seseorang.

“Kalau good person, orangnya baik, tapi bad system itu bisa mengubah good person jadi bad person karena lingkungan buruk bisa mempengaruhi, semacam habitat mempengaruhi cara berpikir. Kalau misalnya ya kita nonton TV, dulu 10 tahun lalu adegan ciuman kan enggak ada, sekarang di film dan sinetron kan ada. Dulu orang ribut sekarang kan enggak, karena sesuatu semakin terbiasa dikonsumsi atau kita saksikan. Itu batas-batas moralitas akan berubah,” ucapnya.

“Sama seperti artis mungkin hari pertama, hari ke dua kerja kaget-kaget, tapi hari ketiga keempat, mungkin dari kecil-kecilan ya dari yang tidak merokok jadi merokok, enggak minum bir jadi minum bir, tidak prostitusi akhirnya terlibat prostitusi. Itu kan prosesnya gradual, tidak seketika. Pengaruh habitus itu kuat ya,” katanya.

Profesor Bagong sendiri melihat artis yang terseret di kasus prostitusi online sebagai korban dari dunia dan lingkungan sosialnya. Terlebih perempuan selalu diperlakukan dengan tidak adil dalam pemberitaan. Kalau lebih ditelaah dari pemberitaan yang sudah ditayangkan, menurut Profesor Bagong, tidak ada yang memperlihatkan atau mengungkap identitas laki-laki, yang terpengaruh dari sistem patriarki.

“Kalau saya pribadi melihat mereka korban, korban dari dunianya, lingkungan sosialnya, dan perempuan selalu diperlakukan dengan tidak adil dalam pemberitaan. Sekarang mana media yang memperlihatkan foto laki-laki penggunanya, enggak ada. Ya, itukan sedikit banyak patriaki, digeber habis-habisan artisnya, yang sewa enggak pernah diperlihatkan, fotonya juga enggak ada,” ujarnya.

Masyarakat dalam menyikapi kasus prostitusi seperti ini perlu pendekatan mulai dari skala makro kultural, karena artis atau perempuan juga merupakan korban ideologi patriarkis. Profesi yang menempatkan perempuan sebagai penghibur, menurut Profesor Bagong, sedikit banyak dari konstruksi patriarkis.

“Ya, perlu pendekatan mulai dari skala makro kultural. Ini juga mereka korban ideologi patriarkis, karena profesi yang menempatkan perempuan sebagai penghiburkan sedikit banyak konstruksi patriarkis kan. Jadi, ya menurut saya mereka ini korban juga, bahwa kemudian ada motif-motif pribadi untuk itu, itu soal lain,” katanya.


Editor : Tuty Ocktaviany