Tren Hustle Culture Paling Sering Dialami Generasi Milenial, Ternyata Ini Alasannya
JAKARTA, iNews.id - Sudah bukan rahasia lagi kalau kerja keras sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun ada beberapa orang yang gila kerja, dan biasanya mereka mengidap gaya hidup hustle culture.
Secara etimologis, istilah hustle culture berasal dari kata Bahasa Inggris. Hustle yang berarti aksi energik, mendorong seseorang agar bisa bergerak lebih cepat secara agresif, dipadukan dengan kata culture yang berarti budaya. Sedangkan definisi hustle culture menurut pakar psikologi adalah budaya yang membuat seseorang menganut workaholism atau gila kerja.
Kini tren hustle culture dimaknai sebagai suatu keadaan bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melampaui batas kemampuan. Kondisi inilah yanh akhirnya menjadi gaya hidup. Mengacu pada hal itu Ketua Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DPP Pemuda Partai Perindo, Nuke Azwita, S.Ikom mengatakan alasan anak muda menjalani gaya hidup hustle culture karena tuntutan lingkungan.
"Anak muda zaman sekarang susah menghindari hustle culture. Karena ada anggapan harus sukses di bawah 30 tahun. Padahal kesuksesan itu tidak dipatok umur. Ada yang orang sukses di usia 40 tahun tapi mereka panjang umur, ada yang sukses di usia 22 tahun tapi di umur 40 tahun sudah meninggal. Sukses bisa kapan saja asal ada kemauan," kata Nuke Azwita seperti dikutip dalam Podcast Aksi Nyata bertajuk 'Fenomena Hustle Culture di Kalangan Generasi Muda', Selasa (4/10/2022).
Nuke menambahkan hal itu terjadi di tengah generasi milenial karena mereka memiliki role model yang terlalu tinggi dan tidak mengukur pada kemampuan.
"Misalnya kerja baru satu tahun tapi mereka mau kayak Elon Musk, kan susah. Terus mereka juga melihat temannya yang sudah lebih sukses duluan, padahal untuk sukses setiap orang timingnya berbeda," ujarnya.
Namun sayangnya, gila kerja tak melulu baik untuk kesehatan khususnya mental kita. Faktanya banyak dampak buruk yang akan dialami seseorang bila menerapkan gaya hidup hustle culture. Nuke menjelaskan masalah mental yang dialami seseorang yang sering menjalani gaya hidup hustle culture adalah insecure hingga menyebabkan depresi.
"Mereka juga bisa insecure, nggak percaya diri, dan ujung-ujungnya nggak melakukan apa-apa," kata Nuke.
Untuk itu, dia menyarankan kepada anak muda untuk bisa memiliki target dalam hidup dan bisa bekerja sesuai jam kerja.
Editor: Elvira Anna