PALEMBANG, iNews.id - Pemerintah bersama TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat Hercules untuk menebar 3,2 ton dry ice atau es kering di wilayah Sumatera Selatan. Langkah ini dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di sekitar Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.
Uji coba modifikasi cuaca ini dilakukan setelah kabut asap pekat mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan. Jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, bahkan sempat turun hingga 350 meter pada pagi hari.
Prabowo Sapa Ketua OJK hingga Gubernur BI: yang Atur Keuangan RI Emak-Emak, Biasanya Hati-Hati
Kondisi tersebut menyebabkan penundaan satu penerbangan dan pembatalan dua penerbangan. Menjelang siang, jarak pandang berangsur membaik hingga mencapai 1.000 meter sehingga aktivitas penerbangan kembali dibuka.
Selain mengganggu penerbangan, kabut asap juga menyelimuti sejumlah kawasan di Palembang. Di sekitar Jembatan Musi 6, asap terlihat sangat pekat hingga membuat jembatan nyaris tidak terlihat.
Aldi Taher Khawatir Pengapuran Tulang yang Diidapnya Efek dari Kemoterapi Kanker
Di sisi lain, Warga mengeluhkan sejumlah gangguan kesehatan, seperti mata perih, sakit tenggorokan, dan batuk. Aktivitas transportasi air di Sungai Musi juga harus diperlambat untuk mengurangi risiko kecelakaan akibat terbatasnya jarak pandang.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam laporan tersebut, tiga wilayah di Sumatera Selatan masuk kategori berbahaya terkait kualitas udara, yakni Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Peringati Hari Santri di Jombang, Ketum PBNU Serukan Salat Istisqa untuk Atasi Karhutla
Sementara itu, titik kebakaran masih terpantau di sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, dan PALI. Kondisi ini membuat upaya penanganan karhutla dan pengendalian kabut asap terus dilakukan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menjadikan penebaran dry ice melalui operasi modifikasi cuaca ini sebagai proyek percontohan. Evaluasi dari penerbangan sebelumnya menunjukkan metode tersebut dinilai membantu meningkatkan jarak pandang dari pagi hingga sore hari.
Uji coba akan dilanjutkan untuk melihat efektivitasnya dalam membantu mengurai kabut asap. Namun, penanganan karhutla tetap membutuhkan upaya pengendalian sumber api agar dampak kebakaran tidak terus meluas dan kualitas udara masyarakat dapat membaik.
Editor: Dani M Dahwilani