JAKARTA, iNews.id - Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan memblokade lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya konflik kedua negara di kawasan strategis Selat Hormuz.
Amerika Serikat terus melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran di sekitar Selat Hormuz dengan alasan menargetkan aset Angkatan Laut Iran. Meski memblokade akses menuju pelabuhan Iran, Washington tetap mengizinkan kapal-kapal komersial internasional berlayar selama tidak bersandar di pelabuhan Iran.
Polri dan Polisi China Saling Tukar Buronan: 3 WN China Diserahkan, 1 WNI Dibawa Pulang
Di saat bersamaan, kapal perang, pesawat tempur, hingga helikopter militer Amerika Serikat dilaporkan disiagakan di kawasan Timur Tengah guna memperkuat operasi militernya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan pemerintahannya akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran, termasuk mengambil alih kendali atas Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Meriah! MPLS di SDN Purwoyoso 1 Semarang Undang Badut Sirkus meski Hanya Dapat 3 Siswa
Pernyataan tersebut memperkuat sikap Trump sebelumnya yang menyebut Amerika Serikat akan mengenakan tarif sebesar 20 persen kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz. Tarif itu disebut sebagai biaya perlindungan yang diberikan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang berlayar di kawasan tersebut.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat untuk pertama kalinya menggunakan drone laut dalam operasi menyerang Iran. Serangan tersebut menyasar kapal selam Iran yang berada di pelabuhan Bandar Abbas.
Betrand Peto Akui Sudah Lama Putus Komunikasi dengan Jordi Onsu
Amerika Serikat mengerahkan sejumlah drone laut Saronic Crosser untuk menyerang kapal selam beserta fasilitas perawatannya. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim operasi ini menjadi penggunaan perdana drone laut tersebut dalam serangan terhadap Iran.
Sebanyak tiga unit drone Saronic Crosser dilaporkan digunakan dalam operasi tersebut. Drone laut bertenaga diesel dengan panjang sekitar 24 kaki itu diproduksi oleh Saronic Technologies yang berbasis di Texas, Amerika Serikat.
Inovasi Anak Bangsa! Kini Ada AI Buatan Dokter RI untuk Deteksi Gagal Jantung
Sementara itu, Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di kawasan Teluk.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis video yang memperlihatkan peluncuran drone dan rudal jelajah. Serangan tersebut disebut menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Iran juga menyasar kapal-kapal milik Amerika Serikat dan sekutunya yang melintas di Selat Hormuz. Target utama serangan disebut berada di pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Iran menyatakan aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap meningkatnya kehadiran Angkatan Laut Amerika Serikat di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital bagi distribusi minyak dan perdagangan internasional.
Editor: Dani M Dahwilani