JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia turun menjadi 7,2 juta orang pada Mei 2026. Jumlah tersebut berkurang sekitar 24.000 orang dibandingkan Februari 2026.
Penurunan jumlah pengangguran turut membuat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia menyusut menjadi 4,65 persen. Berdasarkan laporan BPS, angka tersebut menjadi level terendah sejak 1994.
Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,29 Persen, BPS Sebut Konsumsi dan Investasi Masih Kuat
Data tersebut menunjukkan jumlah tenaga kerja yang belum terserap dunia kerja mengalami penurunan. TPT sendiri merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur persentase angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaan.
BPS mencatat jumlah pengangguran pada Mei 2026 sebanyak 7,2 juta orang. Dibandingkan dengan posisi Februari 2026, jumlah tersebut turun sebanyak 24.000 orang.
BPS: Angka Pengangguran RI Turun Jadi 7,22 Juta Orang
Pada saat bersamaan, TPT turun menjadi 4,65 persen. Angka tersebut menjadi catatan terendah sejak 1994.
TPT menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi ketenagakerjaan. Semakin rendah angkanya, semakin kecil proporsi angkatan kerja yang belum terserap dalam dunia kerja.
BPS Sebut Implementasi B50 Bisa Pengaruhi Ekspor CPO di Semester II 2026
Dalam laporan tersebut, mayoritas pengangguran di Indonesia berasal dari kelompok usia muda di atas 15 tahun.
Di tengah penurunan angka pengangguran nasional, pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di sejumlah daerah.
Inflasi Tahunan Juli 2026 Capai 2,88 Persen, BPS Ungkap Pemicunya
Salah satunya dialami ratusan buruh pabrik garmen di Cimahi, Jawa Barat. Mereka kehilangan pekerjaan setelah perusahaan tempat mereka bekerja resmi berhenti beroperasi.
Pabrik tersebut diketahui telah beroperasi selama sekitar 30 tahun. Penutupan terjadi di tengah lesunya pasar ekspor yang berdampak terhadap kegiatan perusahaan.
BPS Catat RI Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Makanan-Minuman dan Tembakau
Kondisi ini menunjukkan penurunan angka pengangguran nasional berjalan bersamaan dengan masih terjadinya pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor dan daerah.
Editor: Donald Karouw