Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Junta Militer Myanmar Gelar Pemilu Tahap Kedua di Tengah Perang Saudara
Advertisement . Scroll to see content

2.000 Muslim Rohingya Akan Dipulangkan ke Myanmar pada November

Rabu, 31 Oktober 2018 - 19:56:00 WIB
2.000 Muslim Rohingya Akan Dipulangkan ke Myanmar pada November
Myint Thu saat jumpa pers di Banglades (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

DHAKA, iNews.id - Myanmar siap menerima gelombang pertama kepulangan sekitar 2.000 pengungsi muslim Rohingya yang berada di kamp pengungsi Bangladesh pada November mendatang.

Pejabat kedua negara, Selasa (30/10/2018) menyatakan, ini merupakan pemulangan tahap pertama dari total sekitar 720.000 pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh.

Myanmar akan menerima pengungsi yang telah terdaftar dalam catatan resmi pemerintah Bangladesh.

Untuk memuluskan pemulangan gelombang pertama, Menteri Luar Negeri Myanmar Myint Thu berkunjung ke kamp pengungsi di Cox's Bazar, Rabu (31/10/2018). Kedatangan Myint Thu untuk mendiskusikan secara langsung dengan para pengungsi soal pemulangan mereka.

"Kami telah memverifikasi 5.000 nama dari 8.032 daftar pengungsi Rohingnya yang diberikan oleh Bangladesh. Dari 5.000 nama yang telah kami verifikasi, gelombang pertama akan memulangkan sekitar 2.000 orang. Selanjutnya disusul dengan pemulangan gelombang kedua. Jadi, dalam pertengahan November kami akan menerima pemulangan gelombang pertama," kata Myint, dikutip dari AFP.

Saat bersamaan, pemerintah Bangladesh kembali memberikan daftar baru berisi 24.342 nama pengungsi yang siap dipulangkan pada periode selanjutnya.

Sementara itu, seorang perwakilan pengungsi Rohingya, Abdul Hakim, mengaku tak yakin akan pulang ke negaranya. Menurut dia, kondisi di Myanmar belum kondusif bagi muslim Rohingya.

"Kami lebih baik mati di kamp Bangladesh. Kami tidak akan kembali sebelum ada jaminan kewarganegaraan atau usaha pemulihan hak-hak kami," tutur Abdul Hakim.

Kecurigaan tidak hanya datang dari pengungsi Rohingya, Oxfam, salah satu organisasi non-profit yang berbasis di Inggris menyatakan kecurigaannya terhadap pemerintah Myanmar.

"Hal ini sangat mengkhawatirkan, etnis Rohingya kemungkinan besar mengalami perlakuan keji," ujar juru bicara Oxfam, Rachael Reilly.

PBB juga mengingatkan Myanmar bahwa pemulangan pengungsi Rohingya harus bersifat sukarela, bukan paksaan.

Rencana pemulangan pengungsi Rohingya sudah dimulai sejak akhir 2017, namun tidak pernah terlaksana.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut