20 Tentaranya Dibunuh China, India Kini Larang TikTok dan WeChat

Ahmad Islamy Jamil ยท Selasa, 30 Juni 2020 - 09:17 WIB
20 Tentaranya Dibunuh China, India Kini Larang TikTok dan WeChat

Aplikasi TikTok (ilustrasi). (Foto: Istimewa)

NEW DELHI, iNews.idIndia pada Senin (29/6/2020) mengeluarkan larangan penggunaan 59 aplikasi mobile dari China, termasuk TikTok dan WeChat yang sangat populer itu. Pemerintah setempat beralasan, larangan tersebut muncul karena adanya masalah privasi dan keamanan nasional dengan semua aplikasi itu.

Larangan penggunaan aplikasi China oleh India itu menyusul bentrokan maut antara tentara kedua negara di wilayah perbatasan Himalaya, dua pekan lalu. Pada waktu itu, 20 tentara India tewas di tangan pasukan Tiongkok.

Menurut Kementerian Teknologi Informasi India, 59 aplikasi buatan China itu terlibat dalam berbagai kegiatan yang merugikan kedaulatan dan integritas India, pertahanan India, keamanan negara dan ketertiban umum.

“Pemerintah India telah memutuskan untuk melarang penggunaan aplikasi tertentu. Keputusan ini adalah langkah yang ditujukan untuk memastikan keamanan dan kedaulatan dunia maya India,” ungkap kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP, Selasa (30/6/2020).

Kementerian Teknologi Informasi India menyatakan, langkah itu diambil setelah mereka menerima beberapa keluhan terkait pencurian data dan pelanggaran privasi para pengguna puluhan aplikasi tersebut. Namun, tidak dijelaskan kapan larangan itu akan mulai berlaku efektif.

Sebagian besar aplikasi mobile China sangat populer di India, termasuk aplikasi berbagi video milik ByteDance, TikTok dan Helo; aplikasi berbagi file SHAREit, dan; UC browser dan UC News milik Alibaba. Basis pengguna seluruh aplikasi itu mencapai lebih dari setengah miliar di India.

Diperkirakan ada sekitar 120 juta pengguna TikTok di negeri anak benua itu, menjadikannya sebagai pasar terbesar internasional aplikasi itu. Selain TikTok, SHAREit, dan UC browser, India juga memasukkan Weibo dan game strategi Clash of Kings dalam daftar aplikasi yang dilarang.

Editor : Ahmad Islamy Jamil