21.000 Ton Solar Tumpah di Kutub Utara, Wali Kota Rusia Terancam Masuk Bui

Ahmad Islamy Jamil ยท Kamis, 11 Juni 2020 - 17:22 WIB
21.000 Ton Solar Tumpah di Kutub Utara, Wali Kota Rusia Terancam Masuk Bui

Seekor ikan yang mati di Sungai Ambarnaya, dekat Kota Norilsk Rusia. Sungai itu ikut tercemar akibat tumpahan puluhan ribu ton solar, akhir Mei lalu. (Foto: AFP)

NORILSK, iNews.id – Wali Kota Norilsk di Rusia, Rinat Akhmetchin (55), dituduh bersalah atas tumpahnya puluhan ribu ton minyak solar hingga masuk ke saluran air di wilayah setempat, akhir Mei lalu. Penyelidik mengatakan, Akhmetchin telah lalai dalam mencegah insiden itu agar tidak semakin meluas.

Komite Investigasi Rusia mengungkapkan dalam sebuah pernyataan, Akhmetchin gagal menjalankan tugasnya untuk menahan tumpahan minyak—yang menurut kelompok pencinta lingkungan disebut sebagai pencemaran terbesar yang pernah melanda Kutub Utara (Arktik).

Lebih dari 21.000 ton bahan bakar tumpah setelah sebuah reservoir runtuh pada 29 Mei lalu di sebuah pembangkit listrik yang dioperasikan oleh anak perusahaan logam Norilsk Nickel di kota itu. Sebagian besar bahan bakar itu bocor ke sungai dan danau setempat, menciptakan noda merah yang begitu besar sehingga bisa dilihat dari angkasa.

Upaya pembersihan polutan itu diperkirakan bakal memakan waktu bertahun-tahun. Biaya yang mesti digelontorkan Norilsk Nickel untuk itu pun tidak akan kurang dari 150 juta dolar AS (Rp2,13 triliun).

“Setelah mengetahui tumpahan minyak, Akhmetchin tidak mengambil tindakan yang tepat untuk menanggapi situasi darurat dan menangani dampaknya,” ungkap Komite Investigasi Rusia dalam pernyataan yang dikutip AFP, Kamis (11/6/2020).

Akhmetchin dianggap gagal menanggulangi musibah itu lewat kebijakan tanggap darurat lingkungan yang tepat, baik saat memantau tumpahan minyak maupun dalam mengoordinasikan sumber daya yang dimiliki daerah. Akhmetchin yang telah memimpin Kota Norilsk sejak September 2017, bakal menghadapi hukuman 6 bulan penjara jika terbukti bersalah.

Beberapa staf di pabrik Norilsk Nickel juga telah ditahan karena tumpahan minyak itu. Greenpeace Rusia berpendapat, bencana kali ini sebanding dengan bencana yang ditimbulkan oleh Exxon Valdez di lepas pantai Alaska pada 1989.

Editor : Ahmad Islamy Jamil