30 Sipir Penjara di AS Dipecat karena Memberi Hormat ala Nazi
WASHINGTON, iNews.id - Sebanyak 30 petugas penjara di West Virginia, Amerika Serikat, yang baru menyelesaikan pelatihan dipecat karena berpose hormat gaya Nazi saat foto bersama.
Gubernur Virginia Barat Jim Justice mengecam keras foto tersebut dan tidak akan memberi toleransi.
"Perilaku semacam ini tidak akan ditoleransi dalam pengawasan saya terhadap lembaga pemerintahan negara bagian," kata Justice, dikutip dari AFP, Selasa (31/12/2019).
Pada awal Desember, media AS merilis foto petugas sipir magang melakukan pose hormat gaya Nazi ditujukan kepada pelatih mereka Kassie Byrd. Foto itu diambil setelah mereka menyelesaikan pelatihan selama beberapa pekan.
Menurut laporan Departemen Urusan Militer dan Keamanan Publik Virginia Barat, seorang pejabat lembaga pemasyarakatan mengungkapkan keprihatinannya kepada Byrd setelah mendapat foto itu. Namun Byrd membela anak didiknya.
"Tidak ada yang salah dengan itu. Kami memiliki peserta dari semua golongan dan latar belakang dalam foto tersebut dan semuanya berpartisipasi," kata Byrd.
Para peserta pelatihan melakukan hormat gaya Nazi karena mereka menganggap Byrd orang yang keras seperti Adolf Hitler. Hasil penyelidikan menyimpulkan, gaya hormat tersebut dimotivasi oleh ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman.
Meski demikian tindakan mereka dianggap telah merusak reputasi lembaga pemasyarakatan dan berlawanan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan.
Departemen Urusan Militer dan Keamanan Publik merekomendasikan pemecatan semua peserta magang yang terlibat, bersama seorang staf karena tidak melaporkan foto itu kepada atasannya. Sejauh ini, dua pelatih juga sudah diberhentikan.
Kejadian ini bertepatan dengan meningkatnya kekhawatiran atas insiden anti-Semit di AS. Pada Sabtu pekan lalu, seorang pria pengagum Nazi dan Adolf Hitler menikam beberapa orang di rumah seorang rabbi Yahudi di New York, melukai lima orang.
Pihak berwenang mengajukan dakwaan kejahatan kebencian terhadap pelaku, Grafton Thomas (37). Dalam dokumen dakwaan diungkap bahwa Thomas memiliki pandangan anti-Semit dan merencanakan serangan terhadap komunitas Yahudi di New York.
Editor: Anton Suhartono