4 Alasan Trump Bersedia Bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersedia bertemu langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di tengah ketegangan hubungan kedua negara.
Pernyataan itu memunculkan pertanyaan besar, apa sebenarnya alasan Trump membuka peluang dialog tingkat tertinggi tersebut?
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio menegaskan, kesiapan Trump bukan bentuk konsesi politik, melainkan bagian dari pendekatan diplomasi langsung untuk menyelesaikan persoalan global.
“Presiden bersedia bertemu dengan siapa pun. Jika Ayatollah mengatakan ingin bertemu Presiden Trump, maka Presiden akan menemuinya,” kata Rubio, dalam wawancara dengan Bloomberg, dikutip Minggu (15/2/2026).
Trump Ancam Iran Lagi, Negosiasi Buntu Berarti Serangan Jilid 2
Berikut 4 alasan Trump ingin bertemu Khamenei:
1. Mengutamakan Diplomasi daripada Konfrontasi
AS Tak Ingin Gulingkan Rezim Iran, Fokus Senjata Nuklir
Menurut Rubio, Trump memandang pertemuan langsung sebagai cara paling efektif untuk memecahkan kebuntuan internasional. Meski sebelumnya pernah melontarkan ancaman keras terhadap Teheran, Trump disebut lebih memilih jalur kesepakatan dibanding eskalasi militer.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Trump yang kerap menekankan negosiasi langsung antar-pemimpin sebagai strategi diplomasi.
2. Fokus pada Kesepakatan Nuklir
Alasan utama di balik kesiapan itu adalah upaya mencapai kesepakatan baru terkait program nuklir Iran. AS dan Iran saat ini kembali membuka jalur perundingan setelah negosiasi sebelumnya gagal.
Rubio menegaskan, pilihan utama Trump adalah mencapai kesepakatan. Meski sulit, pemerintahan AS ingin memberi kesempatan pada proses diplomasi sebelum mempertimbangkan opsi lain.
3. Menekan Ketegangan Regional
Pertemuan langsung dengan Khamenei juga berpotensi meredakan ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah. Dengan dialog di level tertinggi, Washington berharap dapat mempercepat terobosan dan mengurangi risiko salah perhitungan militer.
Utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, serta penasihat kepresidenan Jared Kushner dijadwalkan melanjutkan serangkaian pembicaraan dengan pihak Iran dalam waktu dekat.
4. Strategi Politik Global
Trump dinilai melihat pertemuan dengan Khamenei bukan sebagai pengakuan legitimasi, melainkan sebagai langkah strategis. Dalam pandangannya, dialog bukanlah tanda kelemahan, tetapi instrumen untuk mengamankan kepentingan nasional AS.
“Dia tidak memandang pertemuan dengan seseorang sebagai konsesi,” kata Rubio.
Kini, bola ada di tangan Teheran. Jika Khamenei membuka pintu dialog langsung, dunia bisa menyaksikan salah satu pertemuan paling bersejarah dalam dinamika hubungan AS-Iran—dua negara yang selama puluhan tahun berada di jalur konfrontasi.
Editor: Anton Suhartono