5 Fakta 'Tenggelam'-nya Venesia, Pernah Terendam Nyaris 2 Meter

Anton Suhartono ยท Sabtu, 16 November 2019 - 13:06 WIB
5 Fakta 'Tenggelam'-nya Venesia, Pernah Terendam Nyaris 2 Meter

Alun-Alun Santo Markus di Venesia terendam air (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Melancong ke Italia belum lengkap jika tak mendatangi Venesia. Namun kondisi kota dengan lensekap peninggalangan bangunan bersejarah, seperti istana dan gereja, serta keindahan alam pantainya itu diambang bahaya.

Banjir akibat naiknya muka air laut terjadi di Venesia sejak sepekan terakhir. Bahkan data pemerintah kota menyebutkan tahun ini ketinggian air merupakan yang terparah kedua sejak 1930, yakni mencapai 1,87 meter.

Kondisi ini jelas bisa mengancam eksistensi peninggalan sejarah daerah yang juga disebut dengan Kota UNESCO itu serta penduduknya.

Berikut lima fakta tentang tenggelamnya Venesia, seperti dikutip dari AFP.

1. Pernah Terendam Air Nyaris 2 Meter

Banjir pada 2019 memang bukan yang terparah, namun tetap membuat repot warga dan wisatawan serta pemerintah. Pergerakan warga dan wisatawan menjadi terganggu karena ketinggian air di jalanan bisa mencapai pinggang orang dewasa.

Kota yang berada di wilayah Veneto ini pernah terendam air hingga ketinggian 1,94 meter pada 4 November 1966 dan 1,65 meter pada 1979.

2. PM Italia Conte Umumkan Kondisi Darurat

Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte pada Kamis (14/11/2019) mengumumkan kondisi darurat di Venesia terkait banjir. Dia memerintahkan kabinet untuk menggelontorkan dana 20 juta euro untuk mengatasi banjir.

Conte menyebut banjir tersebut seperti pukulan ke jantung Italia mengingat pentingnya Venesia bagi negara itu. Dia mengunjungi beberapa lokasi di Venesia beberapa hari lalu menggunakan speed boat, termasuk tempat-tempat bisnis yang terdampak serta rumah penduduk.

Warga yang rumahnya terendam akan mendapat bantuan dari pemerintah hingga 5.000 euro, sedangkan pemilik restoran dan toko menerima hingga 20.000 euro, bahkan bisa mengajukan penambahan jika dampak yang mereka alami lebih parah.

Venesia merupakan kota berpenduduk 50.000 jiwa, namun dikunjungi lebih dari 36 juta wisatawan setiap tahunnya.

3. Lebih dari 50 Gereja Rusak

Menteri Kebudayaan Italia Dario Franceschini memperingatkan bahwa biaya perbaikan bangunan bersejarah yang rusak akibat banjir bisa sangat besar. Franceschini menyebut ada lebih dari 50 gereja rusak, karena air masuk ke dalamnya.

Menurut dia, bencana ini tak terbayangkan sebelumnya. Bahkan dia menyebut apa yang ditonton di televisi tak separah jika menyaksikan langsung kondisi Venesia yang tenggelam.

"Melihat tempat-tempat ini secara langsung memberi kesan bencana jauh lebih besar daripada melihat tayangan di televisi," ujarnya.

4. Alun-Alun Santo Markus Ditutup

Wali Kota Venesia Luigi Brugnaro memutuskan untuk menutup spot turis paling populer yakni Alun-Alun Santo Markus pada Jumat (15/11/2019) karena air masih tinggi.

Ketinggian air pada Jumat memang tak separah pada Selasa yang mencapai 1,87 meter, namun Brugnaro gelombang laut kembali menerjang disertai angin kencang.

Pada Jumat siang ketinggian air 1,54 meter, namun tetap berbahaya.

"Saya terpaksa menutup alun-alun untuk menghindari risiko bagi warga, ini bencana," kata Brugnaro, seraya menambahkan kerugian di awal banjir bisa mencapai 1 juta euro.

Dia juga mengumumkan penggalangan dana di mana warga Italia dan masyarakat internasional dapat berkontribusi untuk memperbaiki kota bersejarah itu.

5. Proyek 78 Pintu Air untuk Hadang Gelombang Pasang

Sebuah proyek infrastruktur besar-besaran yang disebut MOSE telah berlangsung sejak 2003. Tujuannya untuk melindungi kota itu dari gelombang pasang air laut. Namun proyek itu terganggu akibat membengkaknya biaya dan skandal korupsi.

Proyek itu merupakan pembuatan 78 pintu air untuk melindungi sekeliling Venesia dari gelombang pasang. Pengujian yang dilakukan baru-baru ini tak berjalan mulus karena getaran akibat karat.

UNESCO juga menawarkan bantuan untuk merampungkan proyek MOSE.

"Jika pemerintah kota meminta, kami bisa mengirim para ahli dan insinyur untuk melanjutkan kembali proyek ini," kata Mechtild Rossler, direktur Divisi Warisan dan Warisan Dunia UNESCO.

Editor : Anton Suhartono