6 Fakta Saud Anwar, Dokter Muslim Pahlawan Virus Corona Amerika Serikat
JAKARTA, iNews.id – Kejutan dari warga South Windsor, Hartford County, Connecticut, Amerika Serikat benar-benar membuat dr Saud Anwar terharu. Dia nyaris tak bisa berucap apa-apa kecuali melambaikan tangan dan melemparkan tanda ciuman dari jauh.
Kejutan itu tak lain konvoi warga South Windsor di depan rumah ilmuwan sekaligus dokter berdarah Pakistan ini. Dengan mengendarai mobil, warga berparade di depan rumahnya.
Mereka membunyikan klakson dan mengacungkan beberapa poster berisikan ucapan terima kasih.
“Terima kasih untuk kepahlawanan Anda,” bunyi poster itu, dituliskan Siasat Daily, dikutip, Rabu (15/4/2020). “Kepahlawanan Anda menginspirasi kami,” bunyi poster yang lain. “Terima kasih.”
Parade itu menjadi bentuk apresiasi terhadap Saud yang dianggap sebagai pahlawan di masa pandemi corona yang melumpuhkan sebagian Amerika. Penemuan Saud berupa ventilator yang dapat diatur untuk membantu tujuh pasien sekaligus, dinilai sangat berarti untuk menyelamatkan nyawa para pasien.
Saud emosional mendapatkan kejutan tersebut. Dia pun mengunggah momen parade itu di akun Facebook miliknya, 10 April 2020 lalu. Unggahan ini pun viral di media sosial.
“Terima kasih atas semua orang yang datang hari ini untuk mengejutkanku. Saya benar-benar rendah hati dan kewalahan dengan cinta yang Anda semua tunjukkan. Saya merasa diberkati untuk menjadi bagian dari komunitas dan juga bekerja dengan kelompok pekerja kesehatan terbaik yang saya cintai dan hormati," kata Saud.
Berikut fakta-fakta Saud Anwar:
1. Imigran Pakistan.
Dokter Saud Anwar merupakan imigran asal Karachi, Pakistan. Lulus sekolah kedokteran di negaranya, dia kemudian memperdalam ilmunya dengan pergi ke Negara Paman Sam.
Saud menimba ilmu di Universitasa Illionis. Menjadi dokter memang menjadi tujuan hidup baginya. Selain sekolah kedokteran di Illionis, dia mengenyam pendidikan kesehatan masyarakat di Universitas Yale, Connecticut.
2. Dokter Spesialis Paru-Paru.
Saud merupakan dokter spesialis penyakit paru-paru dan pengobatan perawatan kritis. Sekarang ini dia menjabat sebagai Ketua Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Manchester Memorial dan Rumah Sakit Umum Rockville.
Di RS Manchester Memorial, South Windsor, Saud berada di garis depan perawatan pasien Covid-19. Setiap hari dia merawat dan berupaya menyembuhkan orang-orang yang terpapar. Dia juga aktif mengampanyekan pencegahan kepada warga kota itu.
3. Wali Kota Muslim Pertama di AS.
Selain dokter, Saud juga terjun ke dunia politik. Dia terpilih sebagai Wali Kota South Windsor dan menjabat pada periode 2013-205. Sejarah mencatat, Saud merupakan muslim pertama yang menjabat wali kota (mayor) di negara adi daya ini.
Politik tak benar-benar ditinggalkannya kendati tak lagi menjabat wali kota. Sampai sekarang dia masih menjabat sebagai Senator dari South Windsor.
4. Misi Kemanusiaan dan Perdamaian.
Dedikasi Saud di bidang kemanusiaan telah membawanya meraih berbagai penghargaan nasional hingga internasional. Saud sering diundang pemerintah untuk berkonsultasi mengenai penanganan medis saat bencana.
Dikutip dari Huffington Post, Saud juga pernah menjadi bagian dari misi perdamaian ke Timur Tengah dan Asia Selatan. Dia juga bagian dari misi medis AS saat membantu korban gempa bumi dahsyat di Haiti.
Berbagai penghargaan yang diterimanya antara lain datang dari gubernur, jaksa agung, menteri luar negeri dan Palang Merah Amerika. Dia juga penerima penghargaan kepemimpinan dari Komunitas FBI yang diberikan oleh Direktur FBI Robert Mueller III.
5. Menikah dengan Dokter.
Kepakarannya di bidang kedokteran membuat dia kerap diundang untuk berbicara di forum nasional dan internasional, termasuk berbagai televisi. Saud menikah dengan Yusra Anis-Anwar, spesialis Hipertensi dan Penyakit Vaskular dan Penyakit Dalam. Dari pernikahan mereka lahir dua putra Taha dan Taseen.
6. Ventilator Khusus.
Saud bersama Marvin Bristol berhasil membuat alat bantu pernapasan (ventilator) yang dapat digunakan untuk tujuh pasien sekaligus. Inovasi ini didasari kekhawatiran akan semakin banyaknya pasien positif corona.
Alat ini pertama kali dibuat pada 2006 dan belum diuji pada manusia. Di masa pandemi corona ketika korban terus berjatuhan dan terjadi krisis ventilator, alat ini akhirnya digunakan di RS Memorial Manchester.
Editor: Zen Teguh