9 Fakta Demo Rusuh Prancis: 1.500 Toko Dirusak dan Dijarah hingga Mendagri Mundur
PARIS, iNews.id - Demonstrasi rusuh yang melanda Prancis pada akhir pekan memicu kerusakan besar-besaran, termasuk penjarahan toko dan butik mewah. Sedikitnya 1.500 toko dan gerai ritel menjadi sasaran serangan, dengan kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta euro.
Kerusuhan tersebut menjadi salah satu yang terbesar di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari 500.000 orang bergabung dalam demonstrasi di berbagai wilayah, mulai dari pelajar hingga buruh dan mantan aktivis gerakan Rompi Kuning.
Aksi yang awalnya dipicu protes pelajar SMA mengenai kondisi pendidikan itu kemudian meluas ke persoalan lain, termasuk melonjaknya biaya hidup. Demonstrasi berkembang menjadi bentrokan dengan polisi, perusakan fasilitas umum, serta penjarahan tempat usaha dan kantor pemerintah.
Di Bordeaux saja, sebanyak 100 toko dilaporkan dijarah. Sementara itu, kerusakan yang dialami jaringan ritel Carrefour diperkirakan mencapai puluhan juta euro.
Alexandre Bompard, CEO grup ritel Carrefour sekaligus kepala Federasi Perdagangan dan Distribusi Prancis, mengatakan kerugian sektor ritel secara keseluruhan berpotensi mencapai ratusan juta euro.
“Kami dijarah sepanjang hari, dan peralatan juga rusak. (Kerugian di Carrefour) mencapai puluhan juta euro. Untuk sektor ritel secara keseluruhan di Prancis, akan mencapai ratusan juta euro,” kata Bompard kepada stasiun televisi BFMTV, dikutip Selasa (20/10/2026).
Berikut fakta-fakta kerusuhan di Prancis yang memicu kerugian besar dan mendorong pemerintah mengambil langkah darurat.
1. Sebanyak 1.500 toko menjadi sasaran
Polisi melaporkan sedikitnya 1.500 toko dan gerai ritel menjadi sasaran serangan serta penjarahan selama demonstrasi rusuh. Sejumlah tempat usaha mengalami kerusakan, sementara barang dagangan dijarah massa.
Kerugian sektor ritel diperkirakan mencapai ratusan juta euro. Namun, angka final kerusakan masih dalam penghitungan.
Di Bordeaux, sedikitnya 100 toko dilaporkan dijarah. Kerusakan juga terjadi di berbagai kota lain, memperlihatkan luasnya dampak kerusuhan terhadap kegiatan bisnis.
2. Butik mewah ikut dijarah
Penjarahan tidak hanya menyasar gerai kebutuhan sehari-hari, tetapi juga toko-toko komersial, termasuk butik mewah yang menjadi bagian dari sektor ritel Prancis.
Beberapa gerai ritel mewah yang dirusak dan dijarah adalah: Louis Vuitton, Celine, The Kooples, Lacoste, Dior, Hugo Boss, Nike, Hermes, JOTT, Burberry, Kenzo, Lancel, H&M, Salomon, Arc'teryx, dan Swarovski.
Aksi tersebut menambah kerugian yang harus ditanggung pelaku usaha di tengah situasi keamanan yang memburuk. Meski demikian, laporan yang menjadi dasar artikel ini tidak merinci nama butik mewah maupun nilai kerugian masing-masing toko.
3. Lebih dari 1.800 demonstran ditangkap
Polisi menangkap lebih dari 1.800 demonstran dan perusuh di berbagai kota di Prancis. Sebanyak 855 orang di antaranya ditangkap di Paris.
Besarnya jumlah penangkapan mencerminkan skala kerusuhan yang dihadapi aparat keamanan. Bentrokan massa dengan polisi terjadi bersamaan dengan serangan terhadap tempat usaha dan fasilitas publik.
Selain itu, lebih dari 500 polisi dilaporkan terluka. Dua petugas pemadam kebakaran juga mengalami luka-luka saat menangani situasi darurat.
4. Balai kota berusia 143 tahun terbakar
Kerusakan tidak hanya terjadi pada sektor bisnis. Gedung Balai Kota Limoges yang telah berusia 143 tahun dilaporkan hancur akibat kebakaran.
Sementara itu, Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire mengatakan fasilitas umum di berbagai jalanan ibu kota dirusak secara sistematis.
Besarnya kerusakan infrastruktur publik menambah beban pemerintah daerah yang harus memulihkan fasilitas serta memastikan keamanan warga setelah kerusuhan.
5. Seorang demonstran meninggal dunia
Kerusuhan juga menelan korban jiwa. Seorang demonstran dilaporkan meninggal setelah mengalami serangan jantung saat berlangsungnya demonstrasi di Paris.
Laporan tersebut tidak menyebutkan bahwa kematian itu secara langsung disebabkan oleh bentrokan dengan aparat. Namun, insiden tersebut menambah daftar dampak serius dari gelombang demonstrasi yang melanda Prancis.
6. Paris kekurangan personel keamanan
Wakil Wali Kota Paris Lamia El Aaraje menyoroti kurangnya sumber daya kepolisian untuk menjaga keamanan publik saat kerusuhan berlangsung pada Sabtu.
“Jelas tidak cukup sumber daya di ibu kota kali ini,” ujarnya.
Para wali kota di Prancis juga menuntut penjelasan pemerintah mengenai persiapan aparat keamanan dalam menghadapi demonstrasi. Mereka mempertanyakan kekurangan dalam langkah antisipasi yang membuat aksi protes berkembang menjadi kerusuhan besar.
7. Pemerintah berlakukan jam malam parsial
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu memerintahkan sejumlah kota memberlakukan jam malam sebagian untuk menghentikan perusakan dan penjarahan.
“Ini adalah tindakan pelanggaran khusus, penjarahan, dan tidak boleh berlanjut,” kata Lecornu setelah rapat kabinet, Senin (19/10/2026).
Lecornu menegaskan pemerintah bertekad memulihkan ketertiban umum dan tidak menutup kemungkinan memberlakukan keadaan darurat nasional jika diperlukan.
Namun, dia menekankan jam malam harus diterapkan secara lokal dan parsial, bukan di seluruh Paris. Pemerintah belum merinci kota-kota yang akan menerapkan kebijakan tersebut maupun waktu pemberlakuannya.
8. Mendagri Laurent Nunez mengajukan pengunduran diri
Di tengah tekanan akibat kerusuhan, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengajukan pengunduran diri pada Minggu (18/10/2026). Dia menyatakan bertanggung jawab atas situasi yang terjadi.
“Saya mengajukan pengunduran diri karena saya bertanggung jawab atas semua yang terjadi,” kata Nunez kepada radio France Inter.
Namun, Presiden Emmanuel Macron menolak pengunduran diri tersebut dan meminta Nunez tetap menjabat untuk menangani kebutuhan kepolisian dalam situasi darurat.
Macron juga memerintahkan Nunez memastikan transparansi penuh terkait kegagalan perencanaan dan pencegahan intelijen yang diduga berkontribusi terhadap pecahnya aksi kekerasan.
9. Demo meluas dari isu pendidikan ke biaya hidup
Gelombang demonstrasi bermula dari protes para pelajar SMA yang selama beberapa pekan menuntut perbaikan kondisi pendidikan di Prancis.
Namun, aksi tersebut kemudian meluas dengan keterlibatan buruh dan kelompok masyarakat lainnya. Tingginya biaya hidup menjadi salah satu persoalan yang turut mendorong mobilisasi massa.
Lebih dari 500.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah Prancis. Dalam perkembangannya, aksi protes berubah menjadi bentrokan, perusakan fasilitas umum, dan penjarahan yang menimbulkan kerugian besar.
Pemerintah kini menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni memulihkan keamanan dan menjawab tuntutan masyarakat yang melatarbelakangi demonstrasi. Besarnya kerusakan, ribuan penangkapan, serta tekanan terhadap pejabat keamanan membuat penanganan kerusuhan menjadi ujian serius bagi pemerintahan Macron.
Editor: Anton Suhartono