Aneh, Presiden Brasil Bolsonaro Minta Warga Kembali Bekerja di Tengah Wabah Corona

Anton Suhartono ยท Minggu, 29 Maret 2020 - 13:20 WIB
Aneh, Presiden Brasil Bolsonaro Minta Warga Kembali Bekerja di Tengah Wabah Corona

Jair Bolosnaro (Foto: AFP)

BRASILIA, iNews.id - Presiden Brasil Jair Bolosnaro punya kebijakan nyeleneh di tengah wabah virus corona, yakni meminta warga untuk kembali bekerja meskipun para ahli menyarankan pemberlakuan social distancing.

Pernyataan itu disampaikan melalui iklan televisi yang tayang mulai Jumat lalu disertai seruan #BrazilCannotStop.

"Bagi para salesman, bagi para pemilik toko di pusat-pusat kota, bagi para pekerja di dalam negeri, bagi jutaan warga Brasil, Brasil tidak boleh berhenti," demikian pernyataan dalam iklan yang menampilkan tayangan ruang kelas dan pasar yang ramai.

Pada kesempatan lain dia menjelaskan, roda perekonomian di Brasil tak boleh berhenti hanya lantaran wabah corona. Dia menganalogikan dengan kasus kematian akibat penyebab lain.

"Maaf, manusia memang akan meninggal, mereka akan meninggal, itulah hidup. Anda tidak bisa menghentikan produksi di pabrik mobil hanya karena korban kecelakaan lalu lintas,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (29/3/2020).

Tidak hanya itu, Bolsonaro juga meragukan angka korban meninggal akibat Covid-19, khususnya di Sao Paulo.

Dia mengklaim jumlah korban meninggal di negara bagian pusat perekonomian Brasil itu dibesar-besarkan oleh gubernur untuk kepentingan politik, meski tak menyertakan bukti.

Sao Paulo mengonfirmasi kasus Covid-19 paling banyak, yakni hingga Jumat tercatat 1.223 kasus terinfeksi dan 68 kematian.

“Kita perlu melihat apa yang terjadi di sana, ini bukan permainan angka untuk kepentingan politik," katanya.

Pernyataan Bolsonaro itu memicu perselisihan lebih dalam dengan gubernur negara bagian, bukan hanya terkait Sao Palo.

Para gubernur merasa terganggu dengan pandangan presiden bahwa melindungi ekonomi lebih penting ketimbang pemberlakuan social distancing  untuk memerangi penyebaran virus corona.

Editor : Anton Suhartono