Arab Saudi Tutup Pipa Minyak Strategis usai Serangan Drone dari Irak
RIYADH, iNews.id - Arab Saudi menutup pipa minyak strategis setelah fasilitas tersebut diserang drone yang diluncurkan dari wilayah Irak. Serangan tersebut menjadi tanda terbaru meluasnya konflik di Timur Tengah.
Pipa sepanjang 1.200 kilometer (km) tersebut merupakan jalur penting bagi Arab Saudi, eksportir minyak mentah terbesar di dunia, untuk menghindari Selat Hormuz.
Melansir BBC, Irak telah mencopot seorang komandan militer dan membuka penyelidikan setelah mengakui serangan drone terhadap pipa minyak East-West milik Arab Saudi berasal dari salah satu provinsi di wilayahnya yang berbatasan dengan Iran.
Arab Saudi sebelumnya menuduh kelompok milisi yang didukung Iran di Irak sebagai pihak yang menargetkan fasilitas minyaknya.
Adapun, insiden itu terjadi ketika kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran juga melancarkan serangan besar di Yaman. Kondisi ini semakin menekan jalur pengiriman minyak global ketika perang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki bulan ketujuh.
Pada Jumat, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengatakan telah menyerang pejuang Houthi di kota pesisir strategis Mokha. Serangan itu dilakukan sehari setelah Houthi mengklaim telah menguasai seluruh garis pantai Laut Merah.
Arab Saudi mengatakan, penutupan pipa dilakukan sebagai langkah pencegahan. Keputusan tersebut diambil setelah citra satelit menunjukkan adanya tanah terbakar dan kepulan asap di sekitar lokasi serangan.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan serangan tersebut menyebabkan sejumlah orang terluka dan menimbulkan kerusakan. Tingkat kerusakan masih dalam proses penilaian.
Menurut laporan Reuters yang mengutip perusahaan pelacak kapal dan analis, pipa tersebut sebelumnya mengalirkan minyak setara sekitar 4-5 persen dari pasokan minyak global.
Arab Saudi untuk sementara memilih tidak melakukan tindakan balasan setelah mendapat permintaan dari Perdana Menteri Irak. Riyadh menyatakan akan mendukung upaya pemerintah Irak untuk mencegah serangan dari wilayah negaranya terhadap negara-negara tetangga.
"Kerajaan Arab Saudi menegaskan bahwa mereka berhak mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan, melindungi fasilitasnya, serta memastikan keselamatan warga negara dan penduduknya," kata Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.
Kantor Perdana Menteri Irak dalam pernyataannya mengatakan komandan operasi di Provinsi Maysan telah dicopot dari jabatannya setelah dipastikan serangan drone diluncurkan dari wilayah tersebut.
Maysan merupakan salah satu provinsi Irak yang berbatasan langsung dengan Iran.
Arab Saudi sebelumnya pernah melancarkan serangan bersama Amerika Serikat terhadap milisi yang didukung Iran di Irak setelah menuduh kelompok tersebut meluncurkan drone dari wilayah Irak untuk menyerang fasilitas minyak.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yang beranggotakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait, turut mengecam serangan tersebut.
Sekretaris Jenderal GCC Jasem Mohamed Albudaiwi menyebut, serangan itu sebagai eskalasi berbahaya dan ancaman yang tidak dapat diterima terhadap keamanan Arab Saudi, integritas wilayah, serta fasilitas vital negara tersebut.
Sementara itu, Houthi dalam beberapa hari terakhir juga melakukan pergerakan cepat dan menguasai sebagian besar wilayah pesisir negara tersebut.
Kelompok itu mengeklaim telah menguasai Selat Bab al-Mandab, jalur strategis yang menjadi pintu masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez. Houthi mengatakan navigasi maritim tetap aman bagi semua perusahaan kecuali kapal-kapal Saudi.
Pasukan Yaman kemudian melakukan serangan balasan. Pada Jumat, juru bicara militer Majid al-Nuzaili mengatakan pasukannya menargetkan posisi Houthi di dalam dan sekitar Mokha.
Menurutnya, serangan tersebut menghancurkan sejumlah kendaraan dan senjata serta menewaskan sejumlah pejuang Houthi.
Mokha merupakan kota pesisir strategis di Laut Merah yang berada sekitar 80 km di utara Selat Bab al-Mandab. Houthi merebut kota tersebut pada Kamis, sehingga mendorong banyak warga mengungsi menuju Aden, tempat Dewan Kepemimpinan Presiden dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional bermarkas.
Sumber-sumber lokal juga melaporkan pasukan pemerintah melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi di Provinsi Taiz, yang berada di sepanjang pantai Laut Merah, serta Provinsi Ibb yang berbatasan dengan Taiz.
Pada Sabtu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan sedikitnya 76.000 orang telah mengungsi di Yaman sejak Juli. Jumlah tersebut meningkat empat kali lipat dalam sepekan terakhir.
PBB memperingatkan terjadinya krisis pengungsian yang memburuk dengan cepat di Yaman.
"Seluruh keluarga terus berpindah, sering kali pada malam hari. Mereka tidak memiliki tempat yang aman untuk pergi... Mereka kelelahan. Sumber daya mereka telah habis. Sebagian besar melarikan diri hanya dengan pakaian yang mereka kenakan," kata PBB dalam pernyataannya.
Editor: Aditya Pratama