AS Ancam Rusia jika Bayar Militan Afghanistan untuk Bunuh Tentaranya
WASHINGTON, iNews.id - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo memperingatkan mitranya dari Rusia Sergei Lavrov soal bayaran bagi militan Taliban untuk membunuh tentara AS di Afghanistan.
Pompeo mengatakan kepada Lavrov bahwa Rusia harus membayar dengan harga sangat mahal jika terbukti menawarkan hadiah untuk membunuh tentara AS dan pasukan koalisi lainnya di Afghanistan.
Pada Juni lalu surat kabar The New York Times, mengutip pejabat intelijen AS, melaporkan, unit intelijen militer Rusia secara diam-diam menawarkan hadiah kepada kelompok militan yang terkait dengan Taliban untuk membunuh pasukan koalisi di Afghanistan, termasuk tentara AS.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengaku tidak diberi tahu informasi tersebut lantaran para pejabat intelijen AS meragukan laporan tersebut.
Penjara Afghanistan Diserang Kelompok Bersenjata, Taliban: Itu Bukan Kami
“Jika Rusia menawarkan uang untuk membunuh (tentara) Amerika atau dalam hal ini (tentara) Barat lainnya, akan ada harga sangat mahal yang harus dibayar. Itulah yang saya sampaikan kepada Menteri Luar Negeri Lavrov," kata Pompeo dalam wawancara dengan Radio Free Europe/Radio Liberty saat kunjungan ke Republik Ceko.
Namun Pompeo menolak menyampaikan apakah dia yakin informasi intelijen itu kredibel atau tidak.
Donald Trump Tepis Laporan Rusia Bayar Taliban untuk Membunuh Tentara AS
“Saya tahu militer kami telah berbicara dengan para pemimpin senior mereka (Rusia) juga. Kami tidak akan mengabaikannya, kami tidak akan menoleransinya," kata Pompeo, seperti dilaporkan kembali Reuters, Kamis (13/8/2020).
Bulan lalu beberapa sumber di AS dan Eropa yang mengetahui perkembangan seputar isu ini mengatakan, intelijen AS sudah mendapat laporan terbaru yang mendukung tuduhan bahwa Rusia mendorong militan yang berafiliasi dengan Taliban untuk membunuh tentara AS dan sekutunya di Afghanistan.
Gedung Putih Tepis Laporan Trump Sudah Diberi Tahu soal Rusia Beri Hadiah ke Taliban
Pelaporan terbaru itu muncul saat AS melakukan negosiasi dengan Taliban serta Pemerintah Afghanistan terkait penarikan pasukan AS dari negara itu.
Editor: Anton Suhartono