AS Gelontorkan Rp17,8 Triliun untuk Uji Klinis Vaksin Corona Buatan Inggris

Ahmad Islamy Jamil ยท Jumat, 22 Mei 2020 - 07:30 WIB
AS Gelontorkan Rp17,8 Triliun untuk Uji Klinis Vaksin Corona Buatan Inggris

Penelitian vaksin di laboratorium (ilustrasi). (Foto: AFP)

WASHINGTON DC, iNews.idAmerika Serikat menggelontorkan dana 1,2 miliar dolar AS (setara Rp17,8 triliun pada kurs hari ini) untuk memperoleh akses awal ke 300 juta dosis vaksin Covid-19 eksperimental yang sedang diuji di Inggris. Vaksin itu dikembangkan oleh Institut Jenner di Universitas Oxford dan dilisensikan kepada produsen obat Inggris, AstraZeneca.

Vaksin uji coba itu diharapkan bisa sampai di AS pada awal Oktober, walaupun nanti dosis itu hanya disimpan sampai para peneliti menyelesaikan uji klinis dan memastikan vaksin itu aman dan efektif dalam melindungi manusia dari infeksi Covid-19.

Dilansir USA Today, vaksin AstraZeneca masih dalam uji klinis awal dan sedang diuji keamanannya, apakah menghasilkan antibodi terhadap SARS-CoV-2 (virus corona yang menyebabkan Covid-19). Uji klinis bertujuan untuk mengetahui apakah vaksin itu mampu melindungi orang yang diimunisasi agar tidak terinfeksi virus.

Uji klinis tahap pertama pada sejumlah sukarelawan dimulai di Inggris pada 23 April lalu. Sementara, studi klinis tahap ketiga akan dimulai pada musim panas ini di Inggris dan Amerika Serikat. Sekitar 30.000 sukarelawan akan turut berpartisipasi dalam uji klinis fase ketiga tersebut, menurut Departemen Kesehatan AS.

Perjanjian kerja sama pengembangan vaksin tersebut berlangsung antara AstraZeneca dan Badan Penelitian dan Pengembangan Lanjutan Biomedis AS (BARDA). Dalam klausulnya, BARDA akan membayar hingga 1,2 miliar dolar AS untuk mendukung studi klinis, manufaktur, dan pengembangan lanjutan vaksin.

“Kontrak ini menjadi tonggak utama Operation Warp Speed dalam upaya menghadirkan vaksin yang aman, efektif, dan tersedia secara luas pada tahun 2021,” ujar Sekretaris Departemen Kesehatan AS, Alex Azar.

Operation Warp Speed adalah kemitraan pemerintah dan swasta yang dibentuk Gedung Putih untuk mempercepat pengobatan dan penemuan vaksin Covid-19. Presiden Trump telah menyerukan pengembangan 300 juta dosis vaksin SARS-CoV-2 pada Januari sebagai bagian dari upaya tersebut.

Pihak AstraZeneca menyatakan pada Kamis (21/5/2020) kemarin bahwa mereka tengah berupaya untuk mengamankan kapasitas produksi total untuk 1 miliar dosis. Perusahaan itu juga telah membuat kesepakatan untuk memproduksi 400 juta dosis pertama. Sebanyak 100 juta dosis akan dipakai Inggris, sedangkan 300 juta lagi akan dikirim ke Amerika Serikat.

“AstraZeneca mengakui bahwa vaksin itu mungkin tidak berfungsi, tetapi berkomitmen untuk mengembangkan program klinis dengan cepat dan meningkatkan produksi yang berisiko,” ungkap perusahaan itu dalam pernyataannya.

“Berisiko di sini artinya, kita belum mengetahui secara pasti bahwa vaksin itu akan berfungsi atau dapat dikelola dengan aman. Jika hasilnya ternyata tidak demikian, semua vaksin itu akan dimusnahkan.”

Editor : Ahmad Islamy Jamil