AS-Iran Saling Serang, Trump Ancam Lenyapkan Iran
DUBAI, iNews.id - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (27/6/2026) malam, hanya beberapa jam setelah Iran menembak sebuah kapal tanker di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump pun melontarkan ancaman keras dengan mengatakan Iran "tidak akan ada lagi" jika terus melakukan aksi yang memicu eskalasi.
Serangan terbaru ini menjadi yang kedua dilakukan AS dalam dua hari terakhir, menandai memburuknya ketegangan antara Washington dan Teheran sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian pada 17 Juni lalu.
Trump mengaku geram atas serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Melalui akun Truth Social miliknya, dia mengancam akan menggunakan kekuatan militer kembali apabila Iran terus melanggar perjanjian.
"Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi mampu bersikap rasional, dan akan dipaksa untuk menyelesaikan secara militer tugas yang telah kita mulai dengan sangat sukses," tulis Trump.
Dia kemudian menutup pernyataannya dengan ancaman yang lebih keras.
"Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" tegas Trump.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker berbendera Panama di Selat Hormuz pada Sabtu siang.
"Iran diberi kesempatan untuk menghormati perjanjian gencatan senjata namun memilih untuk tidak melakukannya," demikian pernyataan Centcom, dikutip Minggu (28/6/2026).
Centcom menyebut serangan itu merupakan pembalasan atas agresi Iran yang terus berlanjut terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Dalam operasi tersebut, militer AS menyerang sejumlah target strategis Iran, meliputi fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, pertahanan udara, lokasi penyimpanan drone, hingga fasilitas pemasangan ranjau.
Sementara itu, stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan ledakan terdengar di wilayah Sirik. Namun, media tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai penyebab maupun dampak ledakan.
Editor: Anton Suhartono