AS: Israel Tak Bertanggung Jawab Atas Penderitaan Palestina

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 30 Oktober 2019 - 09:06 WIB
AS: Israel Tak Bertanggung Jawab Atas Penderitaan Palestina

Penasihat Gedung Putih Jared Kushner. (FOTO: AFP)

RIYADH, iNews.id - Israel tidak bertanggung jawab atas semua kesulitan Palestina. Pernyataan itu dilontarkan Penasihat Gedung Putih Jared Kushner, Selasa (29/10/2019), di saat Palestina menghadapi krisis keuangan yang melumpuhkan.

Pemerintah AS diketahui siap meluncurkan konsep ekonomi untuk perdamaian Israel-Palestina yang baru. Rencana perdamaian itu berisi konsep ekonomi yang diharapkan bisa merangsang aktivitas perekonomian di Palestina.

"Israel bukan penyebab semua penderitaan rakyat Palestina," kata Kushner, yang juga merupakan menantu sekaligus penasihat senior Presiden AS Donald Trump, dalam konferensi Future Investment Initiative di ibu kota Saudi, Riyadh.

"Jika Anda ingin pergi dan berinvestasi di Tepi Barat atau Gaza, masalah yang menghambat Anda adalah ketakutan akan terorisme dan bahwa investasi Anda dapat dihancurkan," ujarnya, seperti dilaporkan AFP, Rabu (30/10/2019),

Kushner mengungkap aspek ekonomi dari usulan rencana perdamaian Israel-Palestina yang dirancang AS pada Juni dalam sebuah konferensi di Bahrain. Dalam usulan perdamaian itu, dia akan menggelontorkan dana inventasi sebesar 50 miliar dolar AS untuk wilayah tersebut, jika Palestina menyetujui kesepakatan politik.

Kepemimpinan Palestina memboikot konferensi tersebut, menuduh pemerintah mengabaikan masalah utama dan berusaha membeli sebuah pengakuan dari pemerintahan Israel.

Pemerintahan Presiden Palestina Mahmud Abbas berada dalam krisis keuangan parah sejak Februari, ketika Israel membekukan transfer PPN dan bea cukai yang dikumpulkan atas nama Palestina.

Pemerintahannya harus memberlakukan langkah-langkah penghematan, memotong hampir setengah dari gaji karyawan.

Pemotongan dana yang diakukan Israel memukul keras wilayah Palestina, yang sudah mengalami tingat pengangguran rendah, yakni sekitar 26 persen pada kuartal kedua 2019, menurut Bank Dunia.

Editor : Nathania Riris Michico