AS Jatuhkan Sanksi ke Rusia Terkait Serangan Racun Novichok

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 09 Agustus 2018 - 08:58:00 WIB
AS Jatuhkan Sanksi ke Rusia Terkait Serangan Racun Novichok
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: AFP)

WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia atas dugaan keterlibatan negara itu dalam serangan zat kimia pelumpuh saraf kepada mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia.

"Sanksi itu sebagai tanggapan atas penggunaan zat kimia pelumpuh saraf 'Novichok' dalam upaya membunuh warga negara Inggris, Sergei Skripal," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Heather Nauert, seperti dilaporkan AFP, Kamis (9/8/2018).

Sergei Skripal dan Yulia ditemukan tidak sadarkan diri di Salisbury pada Maret 2018. Serangan itu menyebabkan mereka kritis, meski akhirnya pulih setelah beberapa pekan dirawat di rumah sakit.

"Tanggapan kuat dari dunia internasional terhadap penggunaan senjata kimia di jalan-jalan Salisbury mengirimkan pesan tegas ke Rusia bahwa perilaku provokatif dan sembronoannya tidak akan dibiarkan begitu saja," tutur Nauert. 

"Ini bertujuan menghukum pemerintahan Presiden Vladimir Putin karena menggunakan senjata kimia atau biologi yang melanggar hukum internasional," ujar Nauert, menambahkan.

Sanksi baru akan berlaku sekitar 22 Agustus, dan berkaitan dengan ekspor elektronik dan produk berteknologi.

Kemlu menyatakan sanksi yang lebih keras akan menyusul dalam 90 hari jika Rusia gagal memberikan jaminan mereka tidak akan menggunakan senjata kimia lagi dan memungkinkan adanya pemeriksaan oleh PBB.

Seorang pejabat mengatakan ini merupakan ketiga kalinya AS menjatuhkan sanski kepada negara yang menggunakan senjata kimia atau biologi terhadap warga negaranya sendiri.

Pada Maret, AS mengusir 60 diplomat dan menutup konsulat jenderal Rusia di Seattle. Sebagai balasan, Rusia juga mendepak 60 diplomat AS.

Novichok merupakan zat beracun pelumpuh saraf kelas militer yang dikembangkan oleh Uni Soviet selama Perang Dingin.

Rusia membantah keras terlibat dalam serangan itu.

Editor : Nathania Riris Michico