AS Jatuhkan Sanksi, Warga Iran: Hidup Saya seperti Dihancurkan

Nathania Riris Michico ยท Selasa, 07 Agustus 2018 - 16:40:00 WIB
AS Jatuhkan Sanksi, Warga Iran: Hidup Saya seperti Dihancurkan
Warga Iran atas pemberlakuan sanski baru AS. (Foto: AP)

TEHERAN, iNews.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan sanksi sepihak terhadap Iran, Selasa (7/8/2018) dini hari waktu setempat. Banyak warga Iran menyalahkan pemerintah atas pemberlakuan sanksi tersebut.

Warga Iran di berbagai daerah berunjuk rasa sejak sespekan terakhir karena melambungnya harga kebutuhan. Dengan dijatuhkannya sanksi ini, kehidupan mereka akan semakin sulit, terutama kalangan masyarakat miskin.

"Saya merasa hidup saya seperti dihancurkan. Situasi ekonomi, sekarang berarti kelas pekerja harus mati," kata Ali Paphi, seorang pekerja konstruksi, seperti dilansir dari AFP.

"Sanksi sangat memengaruhi kehidupan masyarakat. Saya tidak mampu membeli makan, membayar sewa.Tidak ada yang peduli dengan pekerja."

Perekonomian di Iran sudah terdampak, bahkan beberapa pekan sebelum sanski dijatuhkan. Sebab, retorika agresif Presiden Donald Trump membuat investor ketakutan dan memicu nilai mata uang rial terus anjlok.

Ini semakin menambah pelik kondisi dalam negeri Iran yang juga diterpa isu korupsi, sistem perbankan yang kacau, serta pengangguran yang merajalela.

"Harga meningkat selama tiga atau empat bulan dan semua yang kami butuhkan menjadi sangat mahal, bahkan sebelum sanksi diberlakukan kembali," kata seorang fotografer, Yasaman (31).

Seperti banyak warga lain, dia yakin para pemimpin Iran akan kembali ke meja perundingan, seperti harapan Trump.

"Saya berharap ini akan terjadi suatu hari nanti. Kebanyakan orang percaya para politisi harus 'minum cangkir racun' pada akhirnya," kata Yasaman.

Ungkapan itu itu belakang ini kembali populer di Iran, digunakan oleh pemimpin revolusioner Iran, Ruhollah Khomeini, saat menandatangani gencatan senjata untuk mengakhiri perang Irak pada 1988. Dia menyebut langkahnya itu seperti meminum secangkir racun.

Sebagian besar warga Iran marah karena permusuhan dengan AS tak berkesudahan, yakni sudah terjadi 40 tahun.

"Harga naik lagi, tetapi alasannya adalah pemerintah korupsi, bukan sanksi AS," kata Ali (35), seorang pegawai.

Sama seperti warga lain, Ali melihat Presiden Hassan Rouhani tak berdaya memperbaiki keadaan tersebut.

"Dia tidak bisa menyelesaikan masalah. Sudah terlihat beberapa kali bahwa dia bukan pembuat keputusan di negara ini. Masalah kami adalah perwakilan dan sistem," tambahnya.

Warga Iran yang kaya dan berpendidikan juga kehilangan harapan. Namun mereka memiliki pilihan untuk pergi, meski merasa terbebani.

Editor : Nathania Riris Michico