Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Iran Janjikan Perang Brutal, Bidik Kapal Induk AS
Advertisement . Scroll to see content

AS Kecam Presiden Erdogan soal Anti-Yahudi, Begini Jawaban Pedas Turki

Kamis, 20 Mei 2021 - 11:15:00 WIB
AS Kecam Presiden Erdogan soal Anti-Yahudi, Begini Jawaban Pedas Turki
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan diyakini akan segera menjawab klaim genosida oleh AS. (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

ANKARA, iNews.id - Turki menolak tuduhah Departemen Luar Negeri AS yang menyatakan Presiden Recep Tayyip Erdogan anti-Semitisme (anti-politik yang cenderung menguntungkan orang Yahudi). Kementerian Luar Negeri Turki meminta AS bekerja menghentikan serangan Israel kepada penduduk sipil Palestina dari pada melontarkan tuduhan palsu pada Presiden Erdogan. 

"Kami menyerukan kepada Pemerintah AS untuk berusaha menghentikan serangan Israel terhadap penduduk sipil, alih-alih membuat tuduhan yang tidak adil dan tidak berdasar terhadap para pemimpin kami," kata Kementerian luar negeri Turki.

Kementerian luar negeri AS dalam pernyataannya mengatakan konsep anti-semitisme tidak boleh digunakan untuk menutupi kebijakan pembersihan etnis, agama dan budaya Israel.

"Tuduhan harusnya dialamatkan pada pemerintah Israel yang menyebabkan banyak kematian warga Palestina yang tidak bersalah. Kebanyakan korban yakni anak-anak, perempuan dan remaja. Pemerintah Israel melancarkan serangan tak pandang bulu terhadap Palestina beberapa hari ini," kata Kementerian luar negeri Turki seperti dikutip aa.com.tr.

Pernyataan kementerian luar negeri Turki juga menjelaskan, Turki telah menjadi tanah air bagi banyak orang Yahudi yang melarikan diri dari inkuisisi berabad-abad yang lalu dan dari Holocaust selama Perang Dunia Kedua.

"Masyarakat Turki menghormati semua agama dan memiliki budaya hidup berdampingan secara damai dari berbagai kelompok agama. Anti-semitisme tidak pernah mengakar dalam masyarakat kami," katanya. 

Pernyataan tersebut juga menjelaskan, Turki merupakan salah satu sponsor utama resolusi Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang mengidentifikasi anti-semitisme sebagai serangan terhadap hak asasi manusia untuk pertama kalinya. Perlu juga diingat bahwa anti-semitisme berulang kali dirujuk dan dikutuk oleh Presiden Erdogan sebagai sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kementerian luar negeri Turki menekankan, kebijakan saat ini yang diikuti oleh pemerintah AS, yang berkuasa untuk mengkampanyekan tatanan dunia berbasis hukum dan supremasi hukum internasional, sebenarnya bertentangan dengan janji intinya.

"Jelas bukan kebetulan bahwa tuduhan tak berdasar terhadap Presiden Erdogan dan upaya untuk memberikan impunitas kepada Israel di Dewan Keamanan PBB berasal dari sumber yang sama," bunyi pernyataan itu.

Kementerian luar negeri Turki mengatakan pencabutan hak veto AS di Dewan Keamanan PBB atas mosi melawan serangan Israel akan menjadi langkah pertama ke arah ini.

Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataannya pada hari Selasa (18/5/2021) mengutuk komentar anti-semit tentang orang-orang Yahudi.

Presiden Erdogan pada hari Senin mengkritik Israel atas serangan terhadap warga sipil di Gaza dan Masjid Al-Aqsa. Dia juga mengkritik penjualan senjata AS ke Israel.

Israel disebuut sebagai negara teroris dan melanggar Yerusalem yang dengan kejam membom warga sipil di Gaza.

Erdogan mengatakan bahwa mereka yang mendukung tindakan Israel di Yerusalem dan Gaza akan tercatat dalam sejarah sebagai yang terlibat dalam pembunuhan anak-anak dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Setidaknya 221 warga Palestina telah tewas, termasuk 63 anak-anak dan 36 wanita, dan 1.530 lainnya terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza sejak 10 Mei, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Ketegangan baru-baru ini yang dimulai di Yerusalem Timur selama bulan suci Ramadan menyebar ke Gaza sebagai akibat dari serangan Israel terhadap jemaah di kompleks Masjid Al-Aqsa dan lingkungan Sheikh Jarrah.

Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat Al-Aqsa berada, selama perang Arab-Israel 1967. Itu mencaplok seluruh kota pada tahun 1980 dalam sebuah tindakan yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.

Editor: Umaya Khusniah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut