AS Siapkan Serangan Darat ke Iran, tapi Khawatir Pasukan Dibom Drone dan Rudal
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan opsi serangan darat ke Iran, namun di saat yang sama muncul kekhawatiran besar di kalangan militer soal ancaman mematikan di medan tempur.
Departemen Pertahanan AS (Pentagon) disebut mengantisipasi risiko pasukan mereka menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran, yang dinilai bisa membuat operasi jauh lebih berbahaya.
Selain serangan udara, militer AS juga mewaspadai potensi tembakan darat serta ranjau yang bisa menghambat pergerakan pasukan. Ancaman berlapis ini menjadi pertimbangan utama sebelum keputusan pengerahan pasukan darat benar-benar diambil.
Suat kabar The Washington Post, mengutip beberapa sumber pejabat militer, melaporkan persiapan operasi darat ini menandai fase baru pertempuran yang berpotensi lebih berisiko dibandingkan sebulan pertama konflik, yang selama ini didominasi oleh serangan udara.
Iran Izinkan Kapal-Kapal Tanker Malaysia Lintasi Selat Hormuz: Gratis!
Pentagon disebut telah mengerahkan ribuan personel, termasuk Marinir, pasukan penerjun payung, dan tentara reguler ke kawasan Timur Tengah. Kedatangan kapal induk amfibi USS Tripoli juga menjadi sinyal keseriusan persiapan tersebut.
Meski demikian, beberapa pejabat keamanan AS menyebut rencana ini tidak akan sampai pada invasi skala penuh. Operasi darat kemungkinan hanya melibatkan pasukan elite dan infanteri konvensional dalam misi terbatas.
Spanyol Tolak Pesawat Militer AS Serang Iran: Kami Negara Berdaulat!
Sasaran operasi yang dibahas antara lain Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, serta wilayah pesisir dekat Selat Hormuz yang strategis bagi jalur energi global.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan Pentagon hanya menjalankan tugas untuk menyiapkan berbagai opsi bagi Presiden Donald Trump selaku panglima tertinggi.
“Tugas Pentagon adalah melakukan persiapan untuk memberikan Panglima Tertinggi pilihan maksimal. Ini bukan berarti Presiden sudah membuat keputusan,” ujarnya.
Durasi operasi darat diperkirakan berlangsung beberapa pekan, meski ada pula perhitungan dari kalangan militer bahwa konflik bisa meluas hingga berbulan-bulan, tergantung respons Iran di lapangan.
Editor: Anton Suhartono