Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Presiden Iran: Trump Kira Kami Akan Ambruk seperti Venezuela
Advertisement . Scroll to see content

Australia Akui Pemimpin Oposisi Guaido sebagai Presiden Venezuela

Senin, 28 Januari 2019 - 12:07:00 WIB
Australia Akui Pemimpin Oposisi Guaido sebagai Presiden Venezuela
Ketua DPR Venezuela Juan Guaido. (Foto: AFP/GETTY IMAGES/F PARRA)
Advertisement . Scroll to see content

SYDNEY, iNews.id - Pemerintah Australia mengakui Ketua DPR Venezuela sekaligus pemimpin oposisi, Juan Guaido, sebagai presiden negara itu hingga pemilu terbaru digelar. Pengakuan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Marise Payne dalam sebuah pernyataan, Senin (28/1/2019).

"Australia mengakui dan mendukung Presiden Majelis Nasional, Juan Guaido, dalam mengasumsikan posisi presiden sementara, sesuai dengan konstitusi Venezuela dan sampai pemilu diadakan. Australia menyerukan transisi ke demokrasi di Venezuela sesegera mungkin," kata Payne, seperti dilaporkan ABC News, Senin (28/1/2019).

"Kami sekarang mendesak semua pihak untuk bekerja secara konstruktif menuju penyelesaian situasi yang damai, termasuk kembalinya demokrasi, penghormatan terhadap supremasi hukum, dan penegakan hak asasi manusia rakyat Venezuela."

Pada Rabu pekan lalu, Guaido dari Partai Popular Will (VP) mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela dan langsung diakui Amerika Serikat (AS), Kanada, dan sejumlah negara Amerika Latin.

Deklarasi Guaido membuat negara yang pernah dipimpin Hugo Chavez itu memiliki dua presiden. Sebab, kandidat presiden petahana Nicolas Maduro lebih dulu diambil sumpah untuk menjadi presiden selama enam tahun ke depan setelah partainya yang berhaluan sosialis, United Socialist Party of Venezuela (PSUV), memenangkan pemilu tahun lalu.

Pemilu itu diboikot oposisi dengan alasan penuh kecurangan. AS dan sekutu-sekutunya juga tak mengakui pemilu yang dimenangkan Maduro.

Maduro menuduh AS mengatur kudeta di negaranya dan akhirnya memutuskan hubungan diplomatik dengan negara pimpinan Donald Trump itu. Dia juga meminta diplomat AS untuk meninggalkan Venezuela.

Namun, seorang perwakilan dari Kementerian Luar Negeri menyatakan kepada Sputnik bahwa AS tidak punya rencana untuk menutup kedutaan besarnya di Venezuela dan akan terus mengevaluasi situasi di lapangan.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut