Bahasa China Dipelesetkan sebagai Nama Menu, Restoran Ini Dihujat
AUCKLAND, iNews.id - Sebuah restoran di Selandia Baru dikecam oleh warganet karena dituding rasis setelah menggunakan istilah-istilah Asia sebagai nama menu makanannya.
Dilansir BBC, Jumat (12/1/2018), restoran fusion bernama Asia Bamboozle di Christchurch, Selandia Baru, menampilkan hidangan dengan nama seperti "Chirri Garrik an Prawn Dumpring" dan "Ho Lee Kok".
Beberapa menu lain tertera dengan nama "Eja Ku Rait" dan "Tay's Velly Special Penang Style Seafood". Tulisan menu ini seakan mengejek pelafalan orang China yang sukit mengucapkan huruf L dan R.
Sontak saja menu-menu dalam restoran tersebut menjadi viral di dunia maya. Banyak warganet yang marah dan mempertanyakan alasan penggunaan nama itu dalam menu. Tak sedikit warganet yang menyebut restoran tersebut rasis.

"Ho lee phuk, menu untuk restoran Bamboozle di Chch adalah sebuah tempat sampah berisi remaja rasis yang super!" komentar Alice Galletly di Twitter.
Ada pula warganet yang menyebut nama yang dipilih oleh pihak restoran itu memalukan.
"Ini membuat saya sangat marah, tidak ada rasisme di NZ? Saya rasa tidak," kata pengguna media sosial lainnya, Chris Tse.
Beberapa warganet juga meninggalkan ulasan negatif soal restoran tersebut di halaman Google-nya.
Namun, Philip Kraal, pemilik restoran, menegaskan akan mempertahankan nama menu itu karena banyak pelanggan yang menikmatinya.
"Cukup banyak pelanggan kami yang menikmati menu tertulis sebagai bagian dari keseluruhan pengalaman mereka," kata Kraal.
Namun Kraal menghargai masukan para warganet dan menjadi bahan pertimbangannya.
Sebagai tanggapan atas protes tersebut, Komisioner Hubungan Ras Selandia Baru Dame Susan Devoy menyatakan pihaknya tidak akan pergi ke tempat-tempat bernuansa rasis.
"Selandia Baru memiliki banyak restoran kelas dunia. Tidak ada restoran kelas dunia yang menggunakan stereotip rasial untuk menjual makanan," kata Devoy.
Restoran tersebut telah beroperasi selama dua tahun, namun baru menjadi perbicangan jagad maya usai di-posting di Twitter oleh warganet.
Ini bukan kali pertama Kraal kedapatan masalah karena pilihan bahasa yang digunakan pada menu-menunya. Pada 2009, restorannya yang lain, Crumpet Club, mendapat kecaman untuk kue ayam, brie, dan jagung manis, yang digambarkan bernuansa homoseksual.
Nama kue pai itu kemudian dihapus dari menu setelah ada keluhan yang dilaporkan ke komisi hak asasi manusia Selandia Baru.
Editor: Anton Suhartono