Biaya Perang Iran Tembus Rp854 Triliun, Popularitas Trump Terancam Jelang Pemilu
WASHINGTON, iNews.id - Biaya perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran membengkak hingga lebih dari 47 miliar dolar AS atau sekitar Rp854 triliun. Lonjakan pengeluaran militer ini menjadi beban politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026.
Angka tersebut meningkat lebih dari 25 persen dibandingkan perkiraan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) pada Juli sebesar 37,5 miliar dolar AS. Data terbaru itu diperoleh Reuters dari dokumen Pentagon, tetapi belum dirilis secara resmi kepada publik.
Membengkaknya biaya perang terjadi ketika Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis di DPR dan Senat. Konflik yang pecah pada 28 Februari 2026 itu turut memicu tekanan ekonomi, terutama melalui kenaikan biaya energi yang membebani masyarakat AS.
Laporan Reuters menyebut dampak perang terhadap biaya energi telah mengurangi dukungan bagi kandidat Partai Republik dan menekan tingkat persetujuan publik terhadap Trump.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi Partai Republik menjelang pemungutan suara yang akan menentukan partai mana yang mengendalikan Kongres selama dua tahun berikutnya.
Pentagon Butuh Ratusan Triliun Rupiah untuk Ganti Senjata
Perkiraan terbaru Pentagon menunjukkan besarnya kebutuhan anggaran untuk melanjutkan operasi militer sekaligus mengganti persenjataan yang telah digunakan selama perang.
Lebih dari 29 miliar dolar AS atau sekitar Rp526 triliun diproyeksikan untuk mengganti amunisi yang telah dikerahkan. Sementara itu, lebih dari 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp109 triliun diperlukan untuk mengganti peralatan militer yang hilang, termasuk pesawat dan drone.
Angka tersebut belum sepenuhnya mencakup biaya perbaikan pangkalan militer AS di Timur Tengah yang mengalami kerusakan akibat serangan rudal dan drone Iran.
Dengan demikian, total pengeluaran perang berpotensi bertambah apabila Washington harus mengalokasikan dana tambahan untuk memperbaiki fasilitas militer dan mengisi kembali persediaan persenjataannya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan estimasi biaya perang sebesar 37,5 miliar dolar AS pada Juli. Perhitungan terbaru menunjukkan beban finansial konflik telah meningkat tajam dalam beberapa bulan.
Trump Awalnya Perkirakan Perang Berlangsung Singkat
Trump melancarkan perang terhadap Iran bersama Israel pada akhir Februari 2026. Pada awal konflik, strategi militer AS mengandalkan rudal presisi berteknologi tinggi dan mahal untuk menghancurkan pertahanan Iran.
Washington kemudian berharap dapat menggunakan amunisi yang lebih murah, termasuk bom gravitasi yang dilengkapi sistem pemandu JDAM, setelah pertahanan Iran melemah.
Namun, gencatan senjata pada April memberi Iran kesempatan untuk memulihkan sebagian kemampuan militernya. Teheran dilaporkan menggali kembali fasilitas penyimpanan bawah tanah serta mengaktifkan kembali sejumlah sistem pertahanan, rudal, dan drone yang sebelumnya tidak dapat digunakan.
Trump kemudian memberlakukan blokade maritim untuk menekan pendapatan ekspor minyak Iran. Pemerintah AS juga membuka kemungkinan melanjutkan operasi militer berskala besar setelah pemilu paruh waktu jika diperintahkan.
Sejumlah pejabat AS mengatakan Pentagon telah menyiapkan rencana untuk kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran.
Perang Iran Jadi Beban Politik Jelang Pemilu
Meningkatnya biaya perang dan tekanan terhadap biaya hidup menjadi persoalan bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu. Selain menentukan komposisi Kongres, hasil pemungutan suara tersebut akan memengaruhi kemampuan pemerintah menjalankan agenda politik dan anggarannya.
Partai Republik saat ini memegang mayoritas tipis di kedua kamar Kongres. Kehilangan kursi dalam jumlah yang cukup dapat mengubah keseimbangan kekuatan politik di Washington dan mempersulit pelaksanaan agenda pemerintahan Trump.
Kenaikan biaya energi juga menjadi perhatian karena dampaknya dapat dirasakan langsung oleh rumah tangga dan pelaku usaha. Jika konflik terus berlanjut, pemerintah AS akan menghadapi tekanan untuk menanggung biaya operasi militer sekaligus mengatasi dampak ekonominya.
Meski demikian, besarnya biaya perang tidak dengan sendirinya menentukan hasil pemilu. Sejumlah faktor lain, termasuk kondisi ekonomi secara keseluruhan, isu domestik, dan pilihan pemilih, juga akan memengaruhi hasil pemungutan suara pada 3 November.
Dengan biaya perang yang telah melampaui Rp854 triliun dan kemungkinan operasi militer lanjutan, konflik Iran kini menjadi persoalan militer, ekonomi, sekaligus politik bagi pemerintahan Trump.
Editor: Anton Suhartono