Bukan Hanya Tutupi Kelaparan di Gaza, Israel Juga Bikin Iklan Serang Pejabat PBB
MADRID, iNews.id - Investigasi terbaru mengungkap bagaimana pemerintah Israel menggunakan kampanye iklan digital bernilai besar untuk tidak hanya menyangkal kelaparan di Gaza, tetapi juga menyerang para pengkritiknya.
Lembaga PBB hingga pejabat internasional ikut jadi sasaran dalam strategi propaganda tersebut.
Laporan Eurovision News dan Komite Pengecualian Israel menyebut, biro iklan pemerintah Israel, Lapam, meluncurkan kampanye senilai 50 juta dolar AS (sekitar Rp820 miliar) di berbagai platform, termasuk Google, YouTube, X, Outbrain, dan Teads.
Salah satu target utama adalah badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA). Dalam sejumlah iklan, Israel menuduh UNRWA berfungsi sebagai “kedok Hamas”. Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk melemahkan legitimasi lembaga yang selama ini memberikan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina.
Tidak hanya lembaga, tokoh PBB juga menjadi sasaran. Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, difitnah melalui kampanye iklan digital di Eropa. Ia dilabeli “antisemit” setelah berulang kali mengkritik kebijakan militer Israel di Gaza.
Strategi ini berlangsung bersamaan dengan kampanye yang menampilkan pasar dan restoran di Gaza yang tampak normal, bertujuan membantah laporan resmi PBB mengenai bencana kelaparan. Investigasi menemukan, antara Agustus hingga awal September 2025, video-video tersebut ditayangkan lebih dari 30 juta kali melalui promosi berbayar.
Menurut data Pusat Transparansi Iklan Google, sejak awal 2025 Israel telah mensponsori lebih dari 4.000 iklan, separuhnya ditujukan ke audiens internasional. Selain mengubah persepsi publik soal Gaza, iklan juga diarahkan untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang menyuarakan kritik terhadap Tel Aviv.
Temuan ini memperlihatkan bahwa konflik Gaza kini tidak hanya terjadi di medan perang, melainkan juga di ranah digital. Israel menjadikan platform global sebagai sarana untuk membentuk opini dunia sekaligus membungkam suara penentang.
Editor: Anton Suhartono