Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Iran Kecam Draf Resolusi PBB yang Mengutuk Serangan terhadap Negara Arab
Advertisement . Scroll to see content

Iran Protes: Jadi Korban Serangan AS-Israel, tapi Diposisikan Agresor oleh Negara Arab

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:46:00 WIB
Iran Protes: Jadi Korban Serangan AS-Israel, tapi Diposisikan Agresor oleh Negara Arab
Iran melayangkan protes keras terkait draf resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk serangan Teheran terhadap negara-negara Arab (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

NEW YORK, iNews.id - Iran melayangkan protes keras terkait draf resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk serangan Teheran terhadap negara-negara Arab. Iran menilai resolusi tersebut tidak adil karena memosisikannya sebagai agresor, padahal Teheran menjadi korban serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Pemerintah Iran menilai negara-negara Arab di kawasan Teluk justru berupaya membalikkan fakta dengan menggambarkan Iran sebagai pihak yang memulai agresi. Teheran menegaskan, selama ini negaranya menjadi target serangan militer AS dan Israel yang menimbulkan korban sipil besar.

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, memperingatkan Dewan Keamanan agar tidak menyetujui draf resolusi yang diajukan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Menurut dia, isi resolusi tersebut sarat kepentingan politik.

“Beberapa anggota Dewan (Keamanan PBB) berusaha untuk membalikkan peran serta posisi korban dan agresor,” kata Iravani, di Markas Besar PBB, New York, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu (11/3/2026).

Draf resolusi GCC tersebut mengutuk serangan rudal dan drone Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta Yordania. Resolusi itu juga menuntut penghentian segera semua serangan yang dilakukan Iran terhadap negara-negara tersebut.

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada Rabu waktu New York untuk menentukan apakah resolusi tersebut akan diadopsi atau tidak.

Iravani mengingatkan, perlakuan seperti itu tidak hanya berpotensi menimpa Iran, tapi juga negara lain di masa depan.

“Hari ini yang adalah Iran. Besok, bisa jadi negara berdaulat lainnya,” katanya.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut