Bukan Netanyahu, Presiden Israel Isaac Herzog Tunjuk Gadi Eisenkot Bentuk Pemerintahan
TEL AVIV, iNews.id - Presiden Israel Isaac Herzog menunjuk pemimpin oposisi Gadi Eisenkot untuk membentuk pemerintahan, Sabtu (7/11/2026), menyusul kebuntuan hasil pemilu parlemen Knesset. Tak satu pun blok, baik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun Eisenkot, yang bisa membentuk pemerintahan karena tak memiliki cukup kursi di Knesset.
Eisenkot menolak untuk bekerja sama dengan partai-partai Arab, yang dukungannya bisa memberinya mayoritas kursi di parlemen.
Namun, para pemimpin partai Arab, yang merasa geram dengan kebijakan yang mereka anggap rasis dari Netanyahu dan sekutu sayap kanannya, tetap mencalonkan Eisenkot untuk mencoba membentuk pemerintahan terlebih dulu, sehingga dia mendapat jumlah dukungan melebihi 61 kursi.
"Presiden Herzog telah mengundang Gadi Eisenkot ke Kediaman Presiden, di mana dia akan diberi tugas untuk membentuk pemerintahan besok," ujar seorang juru bicara Herzog, seperti dikutip dari Reuters.
Peran Herzog lebih bersifat seremonial, mencakup penunjukan kandidat untuk membentuk koalisi setelah pemilu.
Dalam unggahan di X, Eisenkot menulis, "Sekaranglah saatnya untuk membentuk pemerintahan darurat nasional. Saya akan melakukan segala upaya untuk memastikan kita layak mengemban tugas ini."
Penunjukan Eisenkot diperkirakan akan diikuti oleh negosiasi panjang yang alot. Dia memiliki waktu 28 hari untuk membentuk pemerintahan, dengan kemungkinan perpanjangan selama 14 hari.
Beberapa skenario yang mungkin ditempuh Eisenkot untuk meraih kekuasaan antara lain: membentuk pemerintahan minoritas dengan dukungan suara dari partai-partai Arab untuk isu-isu krusial; membentuk koalisi dengan partai-partai ultra-Ortodoks, kelompok yang sebelumnya dihindari oleh Eisenkot dan sekutunya, atau membentuk pemerintahan persatuan bersama Netanyahu.
Para pengamat menilai, ketiga opsi tersebut sulit untuk terwujud. Jika Eisenkot gagal, kandidat lain dapat mencoba membentuk pemerintahan dan jika kandidat tersebut pun gagal, parlemen dapat mengajukan nama lain.
Proses ini memiliki batas waktu sekitar 100 hari. Jika tidak ada satu pun pihak yang berhasil, maka pemilu kembali akan digelar.
Partai Likud pimpinan Netanyahu memenangkan kursi terbanyak dibandingkan partai lainnya, yakni 27 kursi di Knesset dari total 120 orang. Namun, koalisi nasionalis-religius di bawah Netanyahu hanya memperoleh total 53 kursi, masih kurang untuk mencapai mayoritas 61 kursi.
Partai Yashar pimpinan Eisenkot muncul sebagai partai terbesar kedua dengan perolehan 21 kursi, sementara koalisinya yang mencakup empat partai yang dipimpin oleh tokoh Yahudi, mulai dari spektrum kiri-tengah hingga sayap kanan, hanya memenangkan 48 kursi. Dua partai yang mewakili kelompok minoritas Arab di Israel mencatat rekor perolehan 19 kursi, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Editor: Rizky Agustian