Cara Jepang Tangkal Pria Pengintip Rok dan Peraba Tubuh Perempuan di Kereta

Anton Suhartono ยท Sabtu, 21 Desember 2019 - 07:07:00 WIB
Cara Jepang Tangkal Pria Pengintip Rok dan Peraba Tubuh Perempuan di Kereta
Emblem baru yang bisa digunakan perempuan di Jepang untuk menangkal pelecehan seksual (Foto: Japan Today)

TOKYO, iNews.id - Pusat Aktivitas Pencegahan Pelecehan Umum Jepang membuat emblem baru sebagai upaya menangkal pria nakal yang ingin melecehkan perempuan di ruang publik. Pelaku aktivitas ini disebut dengan chikan.

Mereka mengincar para perempuan yang mengenakan rok, biasanya para pelajar SMP atau SMA yang naik transportasi umum seperti kereta.

Lembaga itu merilis emblem bergambar seekor berang-berang yang sedang mengintip rok sambil diikat borgol. Gambar itu merupakan hasil sayembara tahunan yang dimenangkan seorang siswa SMA di Prefektur Miyazaki. Dia mendapatkan hadiah 50.000 yen atau sekitar Rp6,3 juta.

Namun publik mempertanyakan pemilihan berang-berang sebagai simbol dari chikan karena hewan itu dikenal lucu.

"Menggunakan berang-berang yang tampak lucu sebagai simbol chikan tidak efektif," demikian komentar yang dirilis Japan Today.

“Menjadikan karakter ini sebagai titik fokus kampanye sama saja memperhalus masalah yang sangat nyata. Fokuslah dari sudut pandang bahwa ini adalah kejahatan, biarkan orang mesum ini tahu bahwa mereka bisa masuk penjara," demikian komentar lainnya.

Terlepas dari itu, pemenang desain gambar emblem, tak disebutkan identitasnya, menjelaskan kepada penyelenggara bahwa dia berharap karyanya bisa membantu para perempuan untuk terhindar dari pelecehan.

Di emblem itu juga ada tulisan "Meraba-raba merupakan kejahatan" dan "Kami tidak akan diam dengan kondisi ini."

Akika Saito, penasihat kompetisi, mengatakan, pelecehan bukan dilandasi semata oleh kecenderungan terhadap seragam, tapi ada anggapan bahwa seragam sekolah itu merupakan simbol kepatuhan yang harus diserang.

Dia permah menangani lebih dari 2.000 korban pelecehan seksual di transportasi umum, sekitar 800 di antaranya menargetkan siswi berseragam.

"Itu bukan hanya karena mereka suka seragam, itu karena seragam adalah simbol kepatuhan," katanya.

Emblem bergambar itu bisa digunakan para perempuan sebagai simbol mereka akan melawan siapa pun yang melecehkan.

Saito menyarankan siapa pun yang punya niat buruk terhadap perempuan pengguna emblem untuk menjauh, apalagi coba-coba menyentuh.

Setiap tahun lebih dari 2.500 orang ditangkap di Jepang karena kasus pelecehan. Angka itu sebenarnya tak mencerminkan jumlah kasus sesungguhnya karena perempuan Jepang umumnya memilih diam atau tak melapor meskipun menjadi korban.

Selain menggunakan emblem bergambar, para perempuan Jepang juga bisa memanfaatkan aplikasi seluler DigiPolice untuk menakut-nakuti pelaku.

Editor : Anton Suhartono