Carlos Ghosn Buka Suara, Sebut Penangkapannya seperti Serangan Jepang ke Pearl Harbour

Anton Suhartono ยท Kamis, 09 Januari 2020 - 10:11 WIB
Carlos Ghosn Buka Suara, Sebut Penangkapannya seperti Serangan Jepang ke Pearl Harbour

Carlos Ghosn (Foto: AFP)

BEIRUT, iNews.id - Mantan bos Nissan Carlos Ghosn akhirnya muncul dan menggelar jumpa pers setelah pelariannya yang fenomenal ke Beirut, Lebanon. Dia melarikan diri pada 29 Desember 2019 dari Jepang untuk menghindari persidangan beberapa kasus kejahatan keuangan.

Pelarian Ghosn menjadi berita utama media internasional, bukan hanya karena status hukumnya, tapi cara dia kabur. Informasi dari sumber keamanan menyebutkan, dia disembunyikan di tas alat musik milik grup band lalu terbang ke Istanbul, Turki, dan melanjutkan ke Lebanon menggunakan pesawat pribadi.

Dalam konferensi pers di Beirut, Rabu (8/1/2020), Ghosn lagi-lagi menyebut bahwa tuduhan pelanggaran keuangan terhadapnya tidak berdasar.

"Kolusi antara Nissan dan jaksa ada di mana-mana. Tidak mungkin saya akan diperlakukan dengan adil, ini bukan tentang keadilan. Saya merasa menjadi sandera di negara yang telah saya layani selama 17 tahun," ujar Ghosn dalam jumpa pers yang berlangsung selama lebih dari 2 jam itu, dikutip dari AFP, Kamis (9/1/2020).

Ghosn juga menuduh jaksa penuntut dan Nissan membocorkan informasi palsu secara sistematis dan di sisi lain menyembunyikan fakta-fakta penting yang berkaitan dengan kasus ini dengan sengaja.

Informasi itu, lanjut dia, membuatnya dianggap bersalah di mata dunia dan harus tunduk pada sistem dengan satu tujuan yakni memaksakan pengakuan dan mengakui bersalah.

Dia mengaku tidak punya pilihan selain menghindari persidangan di Jepang. Alasannya, pengacara memberitahu bahwa dia harus menunggu 5 tahun untuk mendapatkan vonis.

Hal lain, Ghosn mengatakan bahwa hak-haknya telah dirampok ketika berada di tahan, seperti tak boleh bertemu istri dan teman-teman. Ghosn menjadi tahanan rumah di Tokyo sejak April 2019 setelah pengajuan pembebasan dengan jaminan diterima pengadilan. Sebelumnya dia mendekam di penjara selama 100 hari lebih.

Dalam jumpa pers itu, dia juga melempar komentar yang membuat kuping Jepang merah, yakni mengibaratkan penangkapannya dengan serangan Jepang ke pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat Pearl Harbour saat Perang Dunia II.

Menurut dia, penangkapan ini sama tak terduganya dengan pengeboman Pearl Harbour pada 1941.

"Saya tidak menyangka sama sekali, apa Anda melihat peristiwa Pearl Harbour terjadi (di sini)?"

Sementara itu jaksa penuntut Jepang membantah klaim Ghosn dengan menyebutnya sebagai pernyataan yang salah besar.

"Tuduhan Ghosn sepenuhnya mengabaikan perilakunya sendiri. Kecaman sepihak terhadap sistem peradilan Jepang sungguh tidak dapat diterima," kata kantor kejaksaan Tokyo, dalam pernyataan.

Bos perusahaan otomotif aliansi Nissan-Renault-Mitsubishi itu selama bertahun-tahun dihormati di Jepang karena berhasil membalikkan kondisi perusahaan Nissan yang sakit.

Pada Rabu malam, jaksa penuntut Lebanon memanggil pria yang memiliki tiga kewarganegaraan, yakni Brasil, Lebanon, dan Prancis, itu untuk dimintai keterangan pada Kamis, terkait dengan Red Notice yang dikeluarkan Interpol.

Pria 65 tahun itu juga akan dimintai keterangan terkait laporan pengacara Lebanon soal perjalanannya ke Israel saat masih menjadi bos Renault-Nissan. Lebanon secara teknis masih berstatus perang dengan Israel.


Editor : Anton Suhartono