China Tuduh AS Sengaja Perpanjang Perang di Ukraina, Ini Tujuannya
BEIJING, iNews.id - China menuduh Amerika Serikat (AS) sengaja membuat perang di Ukraina selama mungkin dengan tujuan melemahkan Rusia. Pernyataan itu disampaikan Duta Besar China untuk Rusia, Zhang Hanhui, dalam wawancara dengan kator berita TASS yang dipublikasikan Rabu kemarin.
Menurut Hanhui, seperti dilaporkan kembali RT, Kamis (11/8/2022), AS memprakarsai lima putaran ekspansi NATO ke timur, mengarahkan 'revolusi warna' di Ukraina, serta memojokkan Rusia dari sisi keamanan. Semua faktor tersebut, lanjut dia, menyebabkan konflik saat ini terjadi di Ukraina.
Oleh karena itu, Hanhui menyebut AS sebagai pemrakarsa dan pihak yang menciptakan krisis Ukraina.
Dia melanjutkan, upaya AS untuk memperpanjang konflik di Ukraina bisa dilihat dari menerapkan sanksi ke Rusia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi diperparah karena AS terus memasok persenjataan ke Ukraina. Strategi ini pada akhirnya bertujuan untuk menghancurkan dan membuat Rusia lelah.
Rusia Terus Serang Ukraina, Presiden Zelensky Bersumpah Akan Balas Dendam
Lebih lanjut Hanhui melihat kesamaan konflik di Ukraina dan ketegangan terbaru di sekitar Taiwan. Dia menuduh AS menggunakan alat yang sebelumnya juga dipakai di negara-negara Eropa Timur.
China Rampungkan Latihan Perang di Sekitar Taiwan, tapi...
AS sedang 'melenturkan otot' di depan pintu China, mengatur berbagai kelompok anti-China, dan secara terang-terangan melintasi semua batasan terkait isu Taiwan.
Dia menyebut krisis di Taiwan sebagai ekspansi NATO ke timur versi Asia Pasifik.
China Rilis Buku Putih Terbaru soal Taiwan, Cabut Janji Tak Akan Kirim Pasukan
Menurut Hanhui, AS punya tujuan yang sama terkait dengan krisis Rusia, yakni menghambat perkembangan dan kebangkitan China. AS disebut berusaha ikut campur urusan dalam negerinya.
Hanhui menegaskan Taiwan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari China dan telah ada sejak dulu, Ini berarti setiap masalah seputar Taiwan merupakan urusan dalam negeri China.
Bombardir Gudang Senjata Ukraina, Rusia Klaim Hancurkan Ratusan Roket HIMARS Buatan AS
“China saat ini bukanlah China 100 tahun lalu yang miskin dan lemah dan biarkan orang lain menentukan nasibnya," ujarnya.
Editor: Anton Suhartono